Batu (beritajatim.com) – Mendaki gunung semakin jadi hobi dengan popularitas yang meroket, tetapi seringkali tidak diimbangi dengan kesadaran akan risiko fatal yang mengintai. Menjawab tantangan ini, Program Studi Kedokteran Emergency Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) bersama platform Tiket Pendakian menggelar edukasi keselamatan esensial di Pondok Kekep, Selecta, Batu, pada hari ini, Minggu (31/8/2025).
Acara bertajuk “Bahaya Akibat Ketinggian, Pertolongan Pertama pada Trauma, dan Teknik Survival” ini dihadiri oleh puluhan pegiat alam. Acara ini bertujuan mengubah paradigma pendaki dari sekadar hobi menjadi kegiatan yang profesional dan terukur.
dr. Yuddy Imowanto, Sp.EM, KEC, dari Emergency Medicine FK UB yang juga menjadi ketua pelaksana, menegaskan bahwa kesenangan mendaki harus diiringi kesiapan menghadapi skenario terburuk.
“Tujuan kami adalah menyadarkan semua pegiat alam bahwa hobi ini menuntut persiapan yang matang dan profesional. Risiko di ketinggian itu nyata, mulai dari yang ringan sampai yang bisa menyebabkan kematian. Kita tidak boleh terlalu yakin perjalanan akan selalu aman,” ujar dr. Yuddy.
Sebagai bukti keseriusan, para peserta tidak hanya dibekali teori tetapi juga menjalani skrining fungsi paru-paru menggunakan alat spirometri. Hasil spirometri yang bagus adalah modal awal pendakian yang lebih aman, di samping kebugaran fisik yang harus terus dilatih.
Salah satu sesi paling krusial dibawakan oleh dr. Dwiwardoyo Triyuliarto, Sp.EM, KEC, FICEP, yang mengupas tuntas bahaya Hipotermia dan Acute Mountain Sickness (AMS). Menurutnya, risiko serius mulai mengintai pendaki saat melewati ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (MDPL).
dr. Dwi memaparkan tiga tahap serangan ketinggian yang wajib dikenali: Tahap Ringan: Ini adalah tanda peringatan kritis. Gejalanya meliputi menggigil, bingung atau berbicara melantur, dan anggota gerak mulai sulit digerakkan.
Tahap Sedang: Kondisi memburuk, ditandai dengan sedikit kelumpuhan, korban sulit diajak berkomunikasi, serta pernapasan dan denyut jantung yang melambat. Tahap Berat: Merupakan puncak dari semua gejala sebelumnya yang bisa berujung pada henti jantung.
“Pengenalan gejala ringan adalah kunci, karena otak manusia hanya memiliki waktu sekitar lima menit untuk bertahan tanpa oksigen sebelum terjadi kerusakan permanen atau brain death,” tegas dr. Dwi.
Dari sisi praktisi lapangan, Singgih Akbar Septiandri dari platform Tiket Pendakian membagikan pilar utama teknik bertahan hidup. Menurutnya, musuh terbesar di alam bebas bukanlah medan, melainkan pikiran sendiri.

“Pilar pertama dan terpenting adalah jangan panik. Saat panik, logika hilang. Selain itu, minimalkan ego dalam rombongan. Jangan meninggalkan teman yang kelelahan,” kata Singgih.
Singgih merangkum empat wawasan survival yang wajib dimiliki pendaki modern. Pertama, manajemen psikologis, kemampuan tetap tenang saat tertekan. Kedua, navigasi dan peta digital, menguasai pembacaan medan dan memanfaatkan teknologi.
Ketiga, pertolongan pertama, memahami penggunaan P3K dan obat-obatan pribadi. Keempat, manajemen logistik, memperhitungkan kebutuhan, terutama bagi pendaki tektok (pergi-pulang tanpa menginap) yang sering terpengaruh konten media sosial.
“Bawalah obat pribadi, pereda nyeri, dan krim otot. Hindari produk instan seperti tisu magic yang hanya mematikan rasa sementara dan bisa berbahaya saat efeknya habis,” tambahnya.
Para ahli sepakat, untuk menekan angka kecelakaan, diperlukan standar dan regulasi yang lebih tegas. dr. Yuddy mengusulkan adanya batasan usia dan pertimbangan berat badan bagi pendaki.
“Dengan segala hormat, mereka yang berusia di atas 65 tahun atau memiliki berat badan berlebih sebaiknya tidak lagi diizinkan mendaki ke jalur-jalur ekstrem. Ini bukan diskriminasi, tapi murni faktor keselamatan dan kesulitan saat proses evakuasi,” pungkas dr. Yuddy. (dan/but)






