Ponorogo (beritajatim.com) – Beberapa waktu yang lalu, Ponorogo kedatangan empat ekor kerbau bule dari Solo. Kerbau itu bukan sembarang kerbau. Hewan itu merupakan pemberian dari Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) untuk Ponorogo. Keempat kerbau itu telah diserahterimakan ke Ketua Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta (Pakasa) Ponorogo, KRA Gendut Wiryo Diningrat.
Kerbau bule atau biasa disebut oleh masyarakat sebagai kebo bule itu terdiri dari dua ekor jantan dan dua ekor betina. Masing – masing memiliki nama kiai Patmono, nyai Ngatmini, kiai Setu dan nyai Suti. Kebo bule ini mempunyai historis sejarah kedekatan antara Ponorogo dengan Keraton Solo.
[berita-terkait number=”5″ tag=”budaya”]
“Keempat kebo atau maeso sudah dibawa pulang dan bisa menjadi aset Ponorogo,” kata Wakil Ketua Pakasa KRA Suro Agul-Agul atau Sunarso, Sabtu (16/10/2021).
Sunarso kebo bule yang dibawa ke Ponorogo ini, merupakan keturunan dari kebo kiai Slamet. Nah, kebo kiai Slamet ini berasal dari Ponorogo. Dulu, sinuwun Pakubuwono II pernah mengungsi atau melarikan diri ke Ponorogo. Saat itu di keraton Solo terjadi geger Pecinan pada tahun 1740. Saat kembali dan berhasil merebut keraton, sinuwun Pakubuwono II diberi kebo bule kiai Slamet oleh pemimpin Ponorogo waktu itu. “Oleh Sinuwun Pakubuwono II, kebo bule kiai Slamet itu dipelihara, sehingga tumbuh keturunannya hingga sekarang,” ungkapnya.
Sunarso menyebut untuk pemeliharaannya, dibutuhkan kubangan air. Sebab kerbau beda dengan sapi, kulitnya yang tebal menyebabkan tidak tahan dengan panas. “Harus dibuatkan kubangan untuk berendam, sebab kerbau tidak tahan dengan panas,” pungkasnya. (end/kun)






