Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ramai pemberitaan Ruben Onsu yang mengalami Empty Sella Syndrome. Bagi masyarakat awam, tentu hal ini masih terdengar sangat asing.
Sebenarnya Empty Sella Syndrome merupakan kondisi di mana seseorang mengalami penyusutan dari pituitary atau hipofisis. Secara normal, kelenjar berukuran sebesar kacang polong ini berada pada bagian depan dari dasar tengkorak, tepatnya di bawah otak.
Fungsinya sendiri untuk membantu meningkatkan metabolisme tubuh dengan cara menghasilkan banyak hormon. Namun, saat kelenjar pituitary tersebut terganggu, maka risiko terjadinya kelainan tentu perlu diwaspadai. Salah satunya kelainan Empty Sella Syndrome ini.
Jika berdasarkan penyebabnya, kondisi ini dapat dibagi menjadi dua, yakni primer yang tanpa bergejala, dan sekunder yang memiliki gejala dan penyebab tertentu sehingga membuat pituitary menyusut.
Misalnya karena pernah mengalami kondisi trauma kepala, tumor, infeksi, atau hal lainnya. Sedangkan gejala yang paling umum terjadi ialah sakit kepala kronis.
Karena sindrom ini kerap menyebabkan ketidakseimbangan hormon karena kelenjar pituitary yang rusak. Maka dari itu ada beberapa gejala yang kerap berkaitan dengan hormon, di antaranya;
-Terjadinya disfungsi ereksi
-Perasaan lebih mudah lelah
-Siklus menstruasi yang tidak teratur
-Menurunnya gairah seksualitas
-Keluarnya cairan dari puting, selain ASI
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit”]
Dalam beberapa kasus, ada gejala lain yang mungkin bisa juga dialami oleh seseorang penderita Empty Sella Syndrome, seperti;
-Adanya peningkatan tekanan pada tengkorak
-Menurunnya ketajaman indra penglihatan
-Kebocoran cairan serebrospinal dari hidung
-Pembengkakan diskus optikus
Meski begitu, sebenarnya sindrom tersebut masih dapat disembuhkan dengan cara mengatasi penyebab sekaligus gejalanya. Biasanya pasien akan diberikan terapi subtitusi hormonal. Tentu saja yang telah disesuaikan oleh hormon apa yang bermasalah pada pasien. (fyi/ian)






