Blitar (beritajatim.com) – Angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Blitar berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim (P3PE) Kemenko PMK mencapai 9.303 jiwa. Hal itu pun menjadi bukti masyarakat Kabupaten Blitar masih ada yang berpendapatan di bawah US$2,15 per kapita per hari.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar, Suwito Saren Satoto membenarkan hal itu. Menurutnya masih ada golongan masyarakat di Bumi Penataran yang tidak bekerja rutin setiap hari, sehingga jika dikalkulasi pendapatannya di bawah Rp. 11.605.
Kurangnya lapangan pekerjaan, membuat sebagian masyarakat Kabupaten Blitar masih bekerja serabutan. Bahkan menurut Suwito, ada golongan masyarakat bekerja dengan sistem “pocokan” atau pekerjaan temporer yang belum tentu mendapatkan penghasilan setiap hari.
“Rp11 ribu per hari jadi memang ada yang kerja kerja yang temporer kerja yang tidak bisa pastikan hasil secara bulanan jadi ketika dia tidak aktivitas ya tentu tidak mendapatkan hasil, ada kerja pocokan upahnya harian bukan didapatkan setiap Minggu,” ungkap Suwito, Senin (17/7/2023).
Hal itu pun menjadi cerminan bahwa lapangan pekerjaan di Kabupaten Blitar masih menjadi hal yang sulit dijumpai. DPRD Kabupaten Blitar pun mendorong agar pemerintah daerah membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan.
BACA JUGA:
Kemiskinan Ekstrim di Kabupaten Blitar Capai 9.303 Jiwa
DPRD Kabupaten Blitar meminta agar pemerintah daerah membuka keran investasi. Sehingga lapangan pekerjaan bisa terbuka dan pengangguran bisa diserap.
“Sebetulnya yang ditumbuhkan itu ekosistem ya, bagaimana agar pertumbuhan ekonomi kemudian investasi itu masuk karena dengan investasi maka lapangan pekerjaan bisa terbuka,” terangnya.
Selain membuka investasi, Pemerintah Kabupaten Blitar juga diharapkan bisa lebih memperhatikan sektor informal yakni pertanian. Pasalnya sektor pertanian di Kabupaten Blitar masih menjadi pekerjaan utama dan paling banyak menyerap tenaga kerja.
DPRD Kabupaten Blitar meminta agar pemerintah lebih banyak melakukan pengembangan di bagian output pertanian atau pasca panen. Pasalnya selama ini, belum cukup banyak usaha pengolahan hasil panen petani, padahal sektor tersebut akan menyerap banyak pengurangan dan menambah nilai jual hasil pertanian.
BACA JUGA:
Balap Liar Terus Berlangsung di Kota Blitar
“Yang informal ini yang ditumbuhkan, kalau Blitar ini pertanian ya di situlah harus difokuskan on farm dan off farm artinya pasca panen itu yang nilai tambahnya tinggi jadi harus betul-betul ditumbuhkan,” ucap Suwito.
Lebih lanjut, DPRD Kabupaten Blitar berharap dalam kurun waktu satu tahun terakhir kepemimpinan Bupati Rini Syarifah angka kemiskinan esktrim tersebut bisa dihapuskan. Pemerintah Kabupaten Blitar diminta agar segera melakukan verifikasi data tersebut sehingga strategi pengentasan kemiskinan ekstrim bisa segera disusun dan jalankan.
“Kemiskinan esktrim itu harus dinolkan, harus dikeroyok segera, di waktu yang nggak lama setahun ke depan juga sudah harus nol,” tutupnya. [owi/beq]






