Bandung (beritajatim.com) – Langit kelabu di atas Lapangan Bola Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, perlahan berganti dengan cerahnya sinar mentari. Namun, di bawah tenda-tenda pengungsian yang menghiasi lapangan, puluhan anak yang menjadi penyintas gempa Bandung tetap ceria.
Suasana riuh terdengar ketika mereka berlarian di lapangan, sesekali memperebutkan bola, sementara di sudut lain tampak beberapa anak bermain flying fox—sebuah wahana yang dibangun di depan tenda pengungsian milik Kementerian Sosial (Kemensos).
Wahana flying fox tersebut didirikan oleh tim Rappelling Education Indonesia (RED) sebagai bagian dari program seribu flying fox untuk anak negeri. “Ini (flying fox) khusus untuk anak-anak, sebagai layanan dukungan psikososial penyintas bencana,” ujar Ropi Saepa AG, salah satu tim RED. Program ini bertujuan membantu anak-anak dalam situasi kebencanaan melalui aktivitas trauma healing.
Flying fox, yang beroperasi sejak Senin (23/9/2024), menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak di pengungsian. Permainan ini dilengkapi dengan peralatan keamanan sesuai standar, seperti helm, fullbody harness, dan tali pengaman, serta diawasi instruktur terlatih. Menurut Ropi, wahana ini gratis dan bertujuan membantu pemulihan trauma anak-anak yang terdampak gempa.
Selain flying fox, tenda pengungsian Kemensos juga menyediakan layanan terapi pijat dan bekam bagi para penyintas gempa. Kerja sama dengan perkumpulan Indonesia Gerak Sireum (IGS) memungkinkan penyintas mendapatkan terapi refleksi, totok punggung, hingga hipnoterapi.
“Kami memberikan layanan terapi untuk para penyintas dan relawan,” jelas Dadan Dermawan, ketua IGS.
Salah satu penyintas, Isye Hermawati, mengaku terbantu dengan layanan terapi ini. “Alhamdulillah, terapi bekam itu bermanfaat banget,” katanya. Layanan ini sudah berjalan sejak Sabtu (21/9/2024) dan diharapkan bisa membantu para penyintas untuk mengurangi ketegangan fisik dan emosional mereka.
Kehadiran Kemensos di lokasi pengungsian Kertasari bukan hanya memberikan bantuan material, tetapi juga fokus pada pemulihan psikososial penyintas, terutama anak-anak. Melalui sinergi dengan berbagai pihak, Kemensos berupaya menghadirkan pelayanan maksimal bagi para korban gempa.
Pesan yang ingin disampaikan melalui upaya ini jelas: meskipun gempa menyebabkan luka fisik dan emosional, masih banyak tangan dan hati yang peduli untuk membantu mereka bangkit kembali. [rea/beq]






