Gresik (beritajatim.com) – Kementrian Perindustrian (Kemenperin) menunjuk Petrokimia Gresik sebagai percontohan, atau pilot project industri memanfaatkan teknologi teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk industri berkelanjutan.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan, teknologi CCU membawa angin segar bagi industri berkelanjutan. Sebab, tidak hanya mampu mengurangi emisi karbon
tapi juga menghasilkan bahan baku untuk kemajuan industri nasional.
“CCU menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon dan mengubahnya untuk produk bernilai tambah. Saat ini kami melaksanakan pilot project ini berbasis hidrometalurgi di Petrokimia Gresik,” katanya di sela-sela Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025, Jumat (22/8/2025).
Sementara itu, Dirut Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menuturkan, pilot project CCU di Petrokimia Gresik telah berjalan selama kurang lebih satu bulan. Fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon dan menghasilkan produk samping berupa soda ash dan baking soda.
“Produk tersebut sangat strategis karena kebutuhan dalam negeri, seperti untuk industri kaca dan deterjen, mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun dan selama ini seluruhnya masih dipenuhi dari impor,” tuturnya.
Lebih lanjut Daconi menuturkan, CO₂ merupakan emisi karbon bisa diubah menjadi produk yang dibutuhkan oleh industri. Tapi, PR (Pekerjaan Rumah) kami sekarang adalah bagaimana meningkatkan kapasitasnya hingga 50.000 ton soda ash atau menyerap 20.000 ton CO₂ melalui pilot project ini. Jika proyek ini berhasil, potensinya sangat besar untuk dilakukan pengembangan skala lebih luas
“Sebagai produsen pupuk dan bahan kimia dengan kapasitas produksi hingga 11 juta ton per tahun, Petrokimia Gresik tidak bisa lepas dari potensi emisi karbon. Tanpa upaya penurunan, emisi karbon yang dihasilkan dapat mencapai 2 juta ton per tahun. Hingga 2025, berbagai program dekarbonisasi yang telah dijalankan berhasil menurunkan sekitar 400 ribu ton CO₂ ekuivalen, namun masih tersisa sekitar 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen yang perlu ditangani dengan teknologi rendah karbon seperti CCU,” tuturnya.
Saat ini lanjut dia, pihaknya telah mencanangkan peta jalan dekarbonisasi menuju Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan NZE 2050 dengan berbagai program dan inisiatif. “Program dekarbonisasi yang telah diimplementasikan diantaranya instalasi solar cell, efisiensi energi di pabrik ammonia, dan fuel switch pabrik NPK,” ungkapnya.
Sebagai informasi, project CCU ini merupakan kerja sama Petrokimia Gresik bersama Kemenperin dan Uwin Resource Regeneration Inc. (UWIN). Adapun UWIN adalah perusahaan swasta manufaktur asal Taiwan yang memiliki teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon (Carbon Capture and Utilization). [dny/kun]






