Magetan (beritajatim.com) – Kemarau panjang tiba, sejumlah petani di Magetan mulai meninggalkan sawahnya terlantar begitu saja. Para petani memilih kerja bangunan ke luar kota. Sementara sang istri atau emak-emak mencari pasir dan batu di sungai guna menyambung hidup.
Beginilah kondisi sejumlah petani di Desa Pendem Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan saat kemarau panjang tiba. Para emak mulai alih profesi sebagai pencari pasir dan batu di sungai setempat.
Seperti dilakukan Prapti (42) warga setempat. Ibu dari empat orang anak itu setiap pagi dan sore harus menyelam di sungai desa setempat yang airnya mulai kering untuk mencari pasir dan batu. Hal ini terpaksa dilakukan agar bisa bertahan hidup.
Sebab sejak empat bulan yang lalu sawah miliknya tidak bisa ditanami lagi. Pasokan air tak ada sama sekali. Sehingga sawah itu dibiarkan terlantar begitu saja. Sementara sang suami Wartoyo (47) memilih bekerja ke luar kota sebagai kuli bangunan.
‘’Suami kerja bangunan keluar kota. Kemarau sudah 4 bula. Kami tidak bisa tanam karena tidak ada air. Untuk menyambung hidup mencari pasir dan batu. Satu kubik Rp 100 ribu. Mencari dengan cara menyelam ke sungai. Semuanya ibu-ibu, sehari dapat setengah kubik,’’ ungkap Prapti, salah seorang petani.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Serupa dialami boriah (48) warga setempat yang juga mencari pasir dan batu disungai setempat. Hanya saja ibu dua orang anak itu dibantu oleh suaminya yang saat itu sedang tidak ada pekerjaan bangunan di luar kota. Dalam sehari para ibu bisa mengumpulkan pasir dan batu mulai setengah hingga satu kubik.
‘’Kalau kemarau tiba cari pasir dan batu untuk dijual. Sawah kering tidak bisa ditanami. Suamj kalau tidak ada kerjaan bangunan yang turut mencari batu setengah hari dapat seperempat pikap dijual 50 ribu,’’ terang Boriah.
Setelah terkumpul pasir dan batu dijual ke pedagang dengan harga Rp 100 ribu per kubik. Kondisi seperti ini dilakukan para petani setempat setiap tahun atau musim kemarau. Mereka para petani baru kembali ke sawah setelah musim penghujan tiba. [fiq/but]






