Bojonegoro (beritajatim.com) – Menyongsong musim kemarau 2026, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mengajak seluruh petani, penyuluh, pelaku usaha tani dan pemangku kepentingan pertanian untuk bersama-sama mengelola sumber daya air secara bijak dan terencana.
Dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Musim Kemarau Tahun 2026 yang digelar di Bakorwil Madiun pada Kamis (23/4/2025) terungkap bahwa perubahan iklim global telah membawa dampak nyata bagi sektor pertanian, khususnya melalui peningkatan suhu udara, perubahan pola hujan, serta potensi meningkatnya kejadian kekeringan.
Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Yuseriza A. Leksana menyampaikan bahwa kondisi ini perlu disikapi dengan langkah adaptif yang mengedepankan kebersamaan.
“Informasi yang kami terima di FGD kemarin, ketersediaan air hingga pertengahan tahun masih relatif mencukupi. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan bijak, agar bisa dimanfaatkan secara merata dan berkelanjutan,” ujar Riza.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berdasarkan kajian dari Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur, bahwa peningkatan suhu udara berpengaruh pada percepatan hilangnya kelembapan tanah, yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Di sisi lain, pola hujan yang berubah membuat penentuan waktu tanam menjadi semakin dinamis.
Meski demikian, kondisi tersebut bukanlah hal yang perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Justru menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan menata kembali strategi pertanian dan pengairan yang lebih adaptif.
“Kemarau adalah siklus yang selalu kita hadapi. Dengan perencanaan yang baik dan kebersamaan, kita tetap berharap masih bisa menjaga produktivitas,” imbuhnya.
Dalam konteks pengelolaan air, DKPP menekankan pentingnya optimalisasi sarana dan prasarana yang telah tersedia, seperti optimalisasi dan pemeliharaan bendungan, embung, jaringan irigasi, hingga pompanisasi. Pemanfaatannya diharapkan dilakukan secara terukur dan selaras dengan kebutuhan di lapangan.
Selain itu, penyesuaian pola dan waktu tanam menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani. Petani diharapkan dapat mempertimbangkan kondisi ketersediaan air serta memilih varietas tanaman yang lebih sesuai dengan kondisi musim, seperti padi berumur Genjah dan tahan kering.
“Ada beberapa pilihan varietas Padi berumur Genjah yang relatif tahan kering seperti Gamagora, Situbagendit, Situpatenggang dan banyak lagi” jelasnya.
Peran penyuluh pertanian sebagai pendamping di lapangan dinilai sangat strategis dalam memastikan informasi dan rekomendasi teknis dapat dipahami serta diterapkan dengan baik oleh petani.
Mengakhiri keterangannya, DKPP mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam menghadapi musim kemarau.
“Mari kita jaga air yang ada, kita manfaatkan dengan penuh tanggung jawab, dan kita kelola bersama. Dengan kebersamaan, semoga tantangan kemarau bisa kita lalui dengan baik,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan pengelolaan sumber daya yang bijak, diharapkan sektor pertanian Bojonegoro tetap mampu menjaga produktivitas serta mendukung ketahanan pangan daerah di tengah dinamika perubahan iklim. (lim/but)

as a preferred source on Google



