Lumajang (beritajatim.com) – Petani tembakau di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, harus menanggung kerugian besar akibat fenomena kemarau basah. Hujan deras yang terus mengguyur di tengah musim kemarau membuat tanaman tembakau milik petani mengalami layu hingga membusuk karena terendam air.
Kondisi ini memaksa petani melakukan panen lebih awal dengan kualitas daun tembakau yang jauh di bawah standar. Situasi tersebut salah satunya dialami Samsul Arifin, petani asal Desa Mangunsari, Kecamatan Tekung. Dari total 1,5 hektare lahan tembakau yang ditanami, setengahnya mengalami kerusakan parah.
“Ini normalnya usia 70 hari itu waktunya panen. Sekarang usia baru 50 hari justru rusak karena terendam sepert,” kata Samsul Arifin, Selasa (16/9/2025).
Tanaman yang semestinya siap panen justru tampak layu dan membusuk. Samsul mengaku hanya bisa pasrah menerima harga tembakau yang akan dipatok gudang, meski pasti turun drastis karena tidak memenuhi standar mutu warna maupun aroma.
“Ya biasanya ini kalau cuaca normal pasti harganya lebih tinggi, kalau kondisi sekarang ya gatau ini gudang mau hargai berapa aja ya penting diterima sudah. Karena kalau kualitasnya jelek, harganya jatuh. Modal sudah keluar banyak, tapi hasilnya nggak sebanding,” tambahnya.
Masalah serupa juga dirasakan oleh kelompok tani di Desa Wonosari. Heri, Ketua Kelompok Tani setempat, menyebut total lahan tembakau yang rusak mencapai 1 hektare. Kondisi ini menyebabkan petani harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.
“Petani tembakau di sini (Poktan Wonosari) ada sekitar satu hektare yang rusak. Penyebabnya, curah hujan terlalu tinggi membuat tanaman terlalu basah hingga akhirnya layu. Ini perkiraan nilai kerugiannya mencapai Rp50 juta,” ungkap Heri.
Fenomena kemarau basah sendiri belakangan kerap terjadi di wilayah Jawa Timur. Dalam konteks pertanian tembakau, kondisi ini menjadi ancaman serius karena tanaman yang membutuhkan sinar matahari optimal justru terhambat pertumbuhannya akibat curah hujan tinggi. [has/beq]






