Banyuwangi (beritajatim.com) – Pilu mendalam masih tampak menyelimuti keluarga almarhum Bintang Bilqis Maulana salah seorang santri Banyuwangi yang meninggal di Pondok PPTQ Al-Hanifiyyah, Kecamatan Mojo, Kediri. Orang tua almarhum, Rustam dan Suyanti begitu terpukul atas meninggalnya putra bungsunya itu.
Suyanti bercerita, anaknya dipulangkan dari pondok pesantren dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu lalu. Meskipun, pihak keluarga telah mendapat kabar jika anaknya tersebut meninggal karena jatuh dari kamar mandi.
Akan tetapi, kondisi berbeda saat jenazah tiba di rumah duka. Terlihat ada yang kurang beres dan terkesan janggal.
Kondisi itu terlihat dari temuan penuh luka dan darah dari tubuh putranya itu.
“Setelah diperiksa ada sejumlah luka di sekujur tubuhnya. Ada darah juga,” ungkapnya.
Pihak keluarga juga menyayangkan sikap pondok pesantren yang tidak proaktif memberi informasi terkait kronologi meninggalnya Bintang.
“Itu yang saya sayangkan. Saya menunggu inisiatif dari pondok untuk meminta maaf atau berduka cita. Tapi tidak ada,” katanya.
Meski demikian, Suyanti mengaku telah mengikhlaskan kepergian putra bungsunya. Namun, keluarga ingin mendapat informasi utuh soal kronologi dan penyebab kematiannya.
“Kenapa kok bisa kejadian begitu. Anak saya salah apa? Saya minta doanya agar kebenaran bisa terungkap,” imbuhnya.
Sekadar informasi, kasus penganiayaan tersebut telah ditangani oleh Polres Kediri Kota. Polisi telah menetapkan empat tersangka atas kematian Bintang. Para tersangka merupakan rekan sesama santri di tempat Bintang menuntut ilmu. [rin/beq]






