Malang (beritajatim.com) – Forkopimda Kabupaten Malang bersama PT Waskita Karya dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan melakukan
Rapat Kordinasi Penanganan Pintu 13 dan Pembangunan Monumen pada Kegiatan Renovasi Stadion Kanjuruhan, Senin (5/8/2024) siang berlangsung di Ruang Rapat Panji Pulang Jiwo, Gedung Setda, Kabupaten Malang. Hadir dalam forum tersebut Pimpinan Daerah bersama pihak PT Waskita Karya.
Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, penguatan konstruksi ini penting karena pintu satu dengan pintu lainnya saling berhubungan. Maka jangan sampai konstruksi ini berpengaruh terhadap yang lain. Karena di atasnya ini, ada manusia yang akan menempati.
“Jangan sampai nanti beberapa konstruksi sebagai tambahan tidak diperkenankan, sementara target jumlah penonton ini katakanlah tetap ini kan beresiko, jangan sampai terjadi force majeure nanti ke belakang,” kata Didik.
Walaupun dilakukan kesepakatan, tetapi ada area yang tidak boleh dilakukan sentuhan apapun, sehingga gate 13 tetap menjadi historis hilangnya ratusan nyawa suporter Aremania.
“Ada beberapa mulai pengecatan kalau bisa andaikata baru dengan model yang lama, kemudian ruang yang depan itu tidak dirubah dulu, kemudian ada tambahan ruang penyangga,” tegasnya.
“Tadi ada kesepakatan tambahan pekerjaan yang harus menjadi tanggungjawabnya PUPR ditambahi kaca penutup di luar sehingga tidak dimasuki oleh tangan jahil,” lanjutnya.
Sementara itu, Project Manager Renovasi Stadion Kanjuruhan PT Waskita Karya, Vino Teguh Pramudya menyampaikan, setelah mendapat kesepakatan dirinya mulai membongkar lantai karena ada penambahan pondasi.
“Ada beberapa titik-titik yang dipertahankan, ada beberapa titik-titik yang memang harus kami kerjakan,” ucapnya.
“Nah beberapa titik-titik yang harus kami kerjakan ya kami mulai laksanakan. Pertama pembongkaran lantai nanti kami masukkan pekerjaan penambahan pondasi (mikropile) nanti akan ke pengerjaan (ceketing) kolom, balok dan menerus sampai ke pengerjaan arsitek nanti,” sambung Vino.
Sedangkan beberapa titik yang harus diperhatikan, lanjut Vino, maka akan dipertahankan. Seperti tangga, dinding, itu pasti kami pertahankan. Maka dengan demikian, ke depan tidak ada lagi kesalahpahaman seperti beberapa hari yang lalu. Dan kesalahpahaman kemarin tidak terjadi lagi.
“Alhamdulillah dengan pertemuan hari ini sudah disepakati untuk pelaksanaan di gate 13,” ujarnya.
Sementara itu, Nuri Hidayat (55), orangtua dari korban Tragedi Kanjuruhan, Jovan (16), mengaku memang sempat shock setelah mendengar kabar dibongkarnya gate 13 Stadion Kanjuruhan, sehingga keluarga korban sama-sama maju.
“Tapi kita sudah diskusi dan saya pikir desain sudah selesai dan mudah-mudahan nggak terjadi mis komunikasi lagi,” pungkas Nuri Hidayat yang sekaligus penasehat Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK). (yog/ian)






