Blitar (beritajatim.com) – Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Blitar meluas. Kini, tercatat sembilan desa yang mengalami krisis air bersih seiring datangnya musim kemarau.
Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Ivong Berttryanto mengungkap desa-desa yang dilanda kekeringan ini tersebar di lima kecamatan.
“Ada 983 kepala keluarga (terdampak kekeringan) dari sembilan desa di lima kecamatan,” ungkapnya.
Sembilan desa itu antara lain Desa Dawuhan di Kecamatan Kademangan, Desa Ngeni dan Desa Wonotirto di Kecamatan Wonotirto.
Selanjutnya, Desa Kaligambir, Desa Kalitengah dan Desa Sumberagung di Kecamatan Panggungrejo.
Kemudian, Desa Sumberkembar dan Desa Salamrejo di Kecamatan Binangun serta Desa Tugurejo di Kecamatan Wates.
Ivong mengungkap jika saat ini BPBD telah mengirim pasokan air bersih ke desa-desa yang terdampak. Setiap hari, sekitar satu tangki berkapasitas 12 ribu liter dikirim kesana.
“Tiap hari, kami mendistribusikan sekitar 12 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Kabupaten Blitar,” ungkapnya.
Ivong berujar bencana ini terjadi sejak awal Juli 2024. Awalnya ada dua desa yang mengalami krisis air bersih.
Debit air sumur berkurang dan berwarna keruh. Bahkan ada sumber airnya yang sampai warga mengering.
Dua desa ini adalah Desa Tugurejo di Kecamatan Wates dan Desa Sumberkembar di Kecamatan Binangun.
“Awalnya dua desa ini yang mengajukan dropping air bersih ke BPBD pada awal Juli 2024,” terangnya.
Selain itu, berdasarkan hasil pemetaan BPBD, ada enam kecamatan di Kabupaten Blitar yang dikategorikan rawan kekeringan.
Di antaranya Kecamatan Wates, Binangun, Panggungrejo, Wonotirto, Kademangan dan Kecamatan Bakung. [owi/beq]






