Sumenep (beritajatim.com) – Bencana kekeringan di Kabupaten Sumenep meluas akibat kemarau panjang. Saat ini jumlah desa yang mengalami kekeringan bertambah 8. Semula 51 desa, kali ini menjadi 59 desa.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd. Kadir menjelaskan, dari 59 desa yang mengalami kekeringan, 7 diantaranya berkategori kering kritis, dan 52 lainnya kering langka.
“Desa-desa yang sebelumnya tidak masuk dalam daerah kekeringan, saat ini juga mengalami kesulitan air bersih. Beberapa desa tambahan itu tersebar di Kecamatan Batuputih, Ganding, Batang-batang, dan Lenteng,” katanya, Jumat (13/10/2023).
Suatu daerah disebut mengalami kering kritis apabila untuk mendapatkan air bersih ke sumber air, harus menempuh jarak di atas 3 kilometer. Sedangkan kering langka apabila untuk mendapatkan air bersih, masyarakat setempat harus mengambil air ke sumber air dengan jarak paling dekat 0,5 kilometer.
Desa yang termasuk kering kritis adalah Desa Prancak dan Montornah Kecamatan Pasongsongan, kemudian Desa Basoka Kecamatan Rubaru, Desa Batuputih Daya, Desa Tengedan, dan Desa Badur Kecamatan Batuputih, serta Desa Kombang, Kecamatan Talango.
BACA JUGA: Terdampak Kekeringan, Banyuwangi Bakal Cari Sumber Air Baru
“Bertambahnya daerah yang mengalami kekeringan itu kemudian ditetapkan dalam SK Bupati tentang tanggap darurat bencana kekeringan. Kalau sebelumnya, statusnya siaga bencana kekeringan,” ujar Kadir.
Karena itulah, lanjutnya, BPBD mengajukan anggaran untuk penambahan pengiriman air bersih ke desa-desa tambahan dan desa yang masih mengalami kering kritis, setelah sebelumnya pihaknya telah melakukan pengiriman air bersih sekitar 300 tangki.
“Kami mengajukan penambahan pengiriman air bersih sebanyak 120 tangki. Per tangki 6.000 liter air bersih. Semoga anggaran bisa segera turun, sehingga pendistribusian air bersih bisa segera dilakukan,” ucapnya.
Kadir menambahkan, selama menunggu anggaran tambahan turun, distribusi air bersih ke daerah kekeringan tetap dilakukan dengan menggandeng pihak lain. “Ada yang dari CSR perusahaan swasta, ada yang dari komunitas berbagi, juga dari beberapa pihak lain. Yang jelas pengiriman air bersih tetap dilakukan,” paparnya. (tem/nap)






