“Katanya kalau big match memakai wasit asing. Ini kok tidak?”
Seorang kawan melontarkan pertanyaan itu setelah Persebaya kalah 0-1 dari Persib di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/9/2025). Gol tunggal Persib dicetak Uilliam pada menit 53 melalui skema serangan balik cepat.
Kawan saya yang lain menyahut, ‘memangnya ini big match?’
Saya menengahi dengan mengatakan, ‘di Liga Indonesia hanya ada dua pertandingan: big match dan super big match. Ini pertandingan super big match, bukan big match. Jadi wajar tidak pakai wasit asing.’
Obrolan berakhir dengan bahagia: menyambut kekalahan dengan tawa. “Lagi pula ini calculated lose. Kekalahan yang sudah diperhitungkan,” kata seorang kawan yang bekerja sebagai aparatur sipil negara dengan bijak.
Sejak awal, Bonek memang tidak memasang asa terlampau tinggi dalam pertandingan pekan kelima Super League 2025-26 ini. Materi pemain Persib jelas lebih bagus. Mereka juara bertahan yang bermain di kandang dengan ditonton 22.642 orang. Menahan imbang saja sudah bagus.
Dan itu yang memang dilakukan Persebaya selama 45 menit babak pertama. Pelatih Edu Perez menginstruksikan anak-anak asuhnya bermain sabar dan mengandalkan serangan balik. Pertandingan baru berjalan 33 detik, Bruno Moreira sudah melepaskan tembakan ke gawang Teja Paku Alam.
Pemain bertahan Persebaya juga cukup rapat dalam menggagalkan tembakan demi tembakan. Tentu saja dengan dibantu tiang gawang yang memblokir bola sepakan Uilliam.
Momentum krusial terjadi pada saat serangan balik Persib yang menghasilkan gol. Sepuluh detik sebelum gol tercipta, Francisco Rivera terjatuh di area dekat kotak penalti setelah kakinya diinjak Uilliam. Wasit Candra melihat tak ada pelanggaran.
Rivera dan kapten Persebaya Bruno Moreira memprotes gol itu, dan meminta agar ada cek ulang dengan menggunakan Video Assistant Referee. Ditolak.
Momentum paling krusial pada menit 90+1, saat Rivera terlibat insiden dengan bek Persib Luciano Guaycochea. Tayangan ulang memperlihatkan bagaimana kaki Rivera diinjak di dalam kotak penalti oleh Luciano.
Namun petugas di ruang VAR meminta wasit mengecek sendiri di layar televisi. Candra memutuskan tidak ada pelanggaran.
Tidak mendapat hadiah penalti, Persebaya justru dirugikan oleh kartu merah langsung untuk Rivera. Gerakan kepala Rivera yang mendekat ke kepala Luciano dan membuat Luciano mendadak menjadi pria lemah yang jatuh terguling, menyebabkan gelandang asal Meksiko itu tak bisa memperkuat Persebaya dalam dua pertandingan berikutnya.
Wasit begitu yakin memberikan kartu merah untuk gerakan ‘soft’ (lunak) Rivera, namun butuh waktu lama untuk memutuskan tak ada hadiah penalti untuk Persebaya. Di sinilah kita memahami, kekalahan Persebaya di Bandung bukan saja sudah diprediksi, tapi juga melatih kesabaran (seperti biasanya).
Edu Perez seharusnya tahu bahwa tidak bisa berharap banyak dari performa perangkat pertandingan. Maka jalan satu-satunya adalah memastikan para pemain Persebaya mengantisipasi hal-hal teknis di lapangan.
Gol serangan balik Persib menunjukkan kecerobohan pemain Persebaya dalam bertahan. Tidak meninggalkan pemain bertahan yang cukup membuat pemain Persib mudah melakukan serangan cepat. Satu kecerobohan yang harus dibayar mahal.
Tidak ada toleransi terhadap kesalahan serupa dalam pertandingan berikutnya melawan Semen Padang pada 19 September 2025 di Gelora Bung Tomo. Terlepas dari urusan apakah nanti wasit impor atau lokal yang akan memimpin pertandingan. [wir]







1 Komentar
Ini asumsi pertandingan diatur ?
Klo kalah ya harus lapang dada.
Menang dan kalah sdh biasa.