Malang (beritajatim.com)-Kekalahan enam calon incumbent dalam Pilkada Serentak 2024 di Jawa Timur (Jatim) menjadi sorotan banyak pihak. Pengamat politik sekaligus dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang, Andhyka Muttaqin, S.AP., M.PA., memberikan analisisnya terkait fenomena ini. Ia menyebut kekalahan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
“Incumbent sering kali menghadapi ekspektasi yang sangat tinggi dari masyarakat. Jika mereka tidak mampu merealisasikan program yang dijanjikan atau kinerjanya dianggap tidak signifikan, masyarakat akan mencari alternatif,” ujar Andhyka.
Kekalahan tersebut terjadi di enam wilayah Jawa Timur, yakni Jombang, Jember, Situbondo, Lumajang, Mojokerto, dan Kabupaten Madiun. Menurut Andhyka, ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kekalahan para calon petahana ini.
Pertama, Kinerja dan Persepsi Publik
Menurut Andhyka, masyarakat cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap calon incumbent. Ketidakpuasan terhadap kebijakan atau kinerja yang dianggap kurang memuaskan menjadi salah satu alasan utama kekalahan mereka.
“Kebijakan yang tidak pro-rakyat atau tidak dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat dapat merusak citra incumbent. Apalagi jika muncul isu korupsi atau maladministrasi, itu semakin memperlemah dukungan,” jelas dosen Manajemen Sistem Informasi dan Assistant Professor di Departemen Administrasi Publik UB.
Strategi Kampanye yang Kurang Efektif
Selain itu, Andhyka juga menyoroti lemahnya strategi kampanye beberapa calon petahana. “Banyak incumbent terlalu mengandalkan rekam jejak mereka, tanpa berupaya menghadirkan narasi kampanye baru yang relevan dengan kebutuhan pemilih saat ini,” tambahnya.
Ia menilai pendekatan kampanye yang stagnan, terutama di era digital, menjadi kelemahan signifikan. Di sisi lain, tim sukses yang gagal memobilisasi dukungan secara efektif turut berkontribusi pada kekalahan ini.
Kedua, Kemunculan Lawan Kompetitif
Faktor eksternal lainnya adalah munculnya kandidat alternatif yang dinilai lebih kompeten dan memiliki visi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Calon penantang sering kali memanfaatkan kelemahan incumbent untuk menggiring opini publik. Apalagi jika mereka memiliki koalisi yang solid dan strategi kampanye yang agresif,” kata pria lulusan UB dan S2 UGM ini.
Ketiga, Dinamisasi Politik Lokal dan Faktor Sosial-Ekonomi
Lebih jauh, Andhyka juga mengungkapkan pentingnya memperhatikan dinamika politik lokal. Perpecahan di internal partai pendukung incumbent sering kali menjadi alasan lemahnya dukungan.
“Perubahan preferensi pemilih juga menjadi faktor. Ketika masyarakat merasa tidak ada kesesuaian antara janji dan realisasi, mereka cenderung beralih ke kandidat lain,” terangnya.
Selain itu, isu-isu sosial dan ekonomi, seperti ketimpangan pembangunan antarwilayah dan minimnya peningkatan kesejahteraan masyarakat, juga dianggap menjadi penyebab utama ketidakpuasan publik terhadap petahana.
Keempat, Peran Media Sosial
Andhyka menambahkan, penggunaan media sosial yang cerdas oleh kandidat penantang sering kali berhasil menggoyahkan dominasi incumbent.
“Media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk membangun narasi negatif terhadap incumbent, terutama di kalangan pemilih muda,” ujarnya.
Kekalahan enam calon petahana di Pilkada Serentak Jawa Timur menunjukkan pentingnya kombinasi strategi yang matang, komunikasi politik yang relevan, serta kinerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ini adalah pelajaran penting bagi calon petahana di masa mendatang untuk lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan lebih cerdas dalam menyusun strategi kampanye,” kata Andhyka menutup. [dan/aje]







2 Komentar
Yg jelas bosan n perlu figur baru
Itu hanya teori umum, yg jelas utk pilkada tahun uanglah yg mengarahkan pemilih. Kalau mau jujur dan diproses sebenere banyak amplop yg diberikan utk memilih calon tertentu. Banyak bukti, sy sendiri di dareh saya mengetahui .