Hari ini, 10 Januari 2023, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) genap berusia 50 tahun. Kelahiran partai ini merupakan fusi dari 4 partai: Partai Katolik, Parkindo, PNI, dan Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia). Dari keempat partai tersebut, PNI merupakan kekuatan politik terbesar dan utama di PDI (era Orde Baru).
Di sepanjang kontestasi politik era Orde Baru Soeharto: Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997, PDI selalu finish di posisi ketiga. Suaranya jarang menyentuh angka 10 persen dari total suara nasional.
Pemilu sepanjang Orde Baru hakikatnya agenda politik predictable. Pesta politik yang bisa diramalkan secara presisi hasil akhirnya jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi tersebut.
Posisi pertama pasti Golkar (kini Partai Golkar) dengan raihan suara selalu di atas 60 persen. Tempat kedua Partai Persatuan Pembangunan (PPP): kekuatan politik hasil fusi politik 4 partai berbasis Islam: Partai NU, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Perti, dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Posisi ketiga baru PDI (kini PDIP).
Salah satu ciri pemilu demokratis adalah hasil akhir siapa yang jadi pemenangnya bersifat unpredictable. Tak bisa ditentukan jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi tersebut dihelat.
Hal itu tak ditemukan di sepanjang pemilu Orde Baru. Ibaratnya, baru sehari setelah pemilu digelar, pemenang pada pemilu 5 tahun berikutnya dipastikan Golkar. Bukan dua partai politik lainnya.
PDIP yang merupakan kontinyuitas histori politik dari PDI dan memiliki paralelisme politik, kultural, sosiologis, dan historis yang panjang dan kuat dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) menjadi wadah berpolitik kaum Nasionalis dan Soekarnoisme di era politik Indonesia modern pasca runtuhnya rezim Orde Baru Soeharto.
Sejak perubahan PDI menjadi PDIP paska-reformasi 1998, partai ini dipimpin Megawati Soekarnoputri: Putri sulung Bung Karno dan Fatmawati, yang di era akhir rezim Orde Baru sempat mengalami peminggiran politik.
Partai ini berpaham Pancasila yang memayungi kredo ideologi kaum Nasionalis di Indonesia. Hal itu sejalan dengan jejak historis PNI yang didirikan Bung Karno di Bandung pada 1927, yang menempatkan ideologi Nasionalisme sebagai kredo politik nilai perjuangannya.
Secara faktual politik, PDIP melekat dengan keluarga Bung Karno. Adalah Megawati Soekarnoputri yang memegang tampuk kepemimpinan puncak partai ini hingga sekarang. Mega menjadi tokoh sentral dan kunci di partai ini.
Policy dan langkah strategis partai ini tak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Mega. Misalnya, dalam penentuan calon presiden (capres) dan calon gubernur (cagub) yang diusung partai ini di satu kontestasi politik. Mega memegang ‘hak prerogatif’ dalam penentuan figur capres yang diusung partai ini. Hal itu sejalan dengan policy yang diputuskan dalam kongres partai.
Di usia 50 tahun pada tahun ini, kepemimpinan keluarga Bung Karno di PDIP masih kokoh. Mega bersama kedua anaknya, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, serta suaminya Taufik Kiemas (almarhum), sebelum meninggal dunia, menjadi figur kunci di PDIP. Guruh Soekarnoputra, putra Bung Karno dan Fatmawati, juga aktif di partai ini. Namun demikian, Mega adalah sentral kepemimpinan di partai kaum Nasionalis ini.
Sekali pun demikian, PDIP terus berusaha bergerak ke arah partai modern. Misalnya, kekuatan politik ini memperhatikan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang berada di level legislatif dan eksekutif dengan baik.
PDIP adalah partai yang memiliki Sekolah Partai: Satu lembaga pendidikan yang berfungsi melakukan pengkaderan dan penanaman nilai-nilai ideologi, visi, dan misi partai secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.
Selain itu, rekruitmen kepemimpinan yang dijalankan partai ini, baik untuk mengisi formasi struktur partai, lembaga legislatif, dan eksekutif, bersifat terbuka. Artinya, siapa pun warga negara diberikan kesempatan yang equal untuk berkiprah dan berjuang bersama partai ini.
Perpaduan antara penguatan pelembagaan politik partai dengan pengaruh politik figur sentral partai mampu menyolidkan dan mengintegrasikan partai ini hingga sekarang. Inilah unik dan menariknya PDIP secara politik.
Partai ini mempunyai histori politik yang panjang, karena tautan sejarahnya yang kuat dengan PNI dan tiga partai lain yang tergabung di fusi partai di awal tahun 1970-an. Di samping itu, partai ini memiliki model kepemimpinan kharismatik di era perpolitikan modern seperti sekarang. Poin lainnya, manajemen politik partai ini bekerja keras mengaplikasikan prinsip-prinsip partai modern secara konsisten dan berkelanjutan.
Pertanyaannya: Sampai kapan PDIP mampu mempertahankan kebesaran dan kejayaan politiknya di lanskap politik Indonesia modern?
Pengalaman Partai Kongres India
Dalam perspektif komparasi politik kepartaian, pengalaman empirik Partai Kongres di India layak untuk dicermati. India dan Indonesia memiliki banyak kemiripan. Kedua negara memiliki jumlah demografi yang besar.
Bahkan, besaran penduduk India dalam beberapa tahun ke depan diestimasikan lebih besar dibanding dengan China. India dan China sama-sama berpenduduk 1,4 miliar jiwa.
Persamaan lainnya antara Indonesia dan India adalah kedua meraih kemerdekaan pasca Perang Dunia II. Indonesia di tahun 1945, sedang India pada tahun 1947. Tokoh kemerdekaan Indonesia, Soekarno dikenal bersahabat baik dengan tokoh kemerdekaan India, Pandit Jawaharlal Nehru. Keduanya merupakan penggagas Gerakan Nonblok dan pejuang kemerdekaan nasional di masing-masing negaranya yang gigih dalam melepaskan bangsanya dari penjajahan Belanda di Indonesia dan Inggris di India.
Selain itu, baik Soekarno dan Nehru adalah penggagas serta pemimpin wadah politik (partai) berpaham Nasionalisme. Soekarno pendiri PNI: Wadah kekuatan politik kaum Nasionalis yang memenangkan Pemilu 1955, pesta demokrasi pertama sejak Indonesia merdeka, dengan persentase kemenangan sekitar 22 persen. Di sisi lain, Nehru dan anak keturunannya (Indira Gandhi, Rajiv Gandhi, Sonia Gandhi, dan Rahul Gandhi) lama memegang tampuk kepemimpinan Partai Kongres India.
Partai Kongres juga cukup lama memegang kekuasaan politik di negara multikultur tersebut sebelum dominasi politiknya dihentikan dan digantikan Bharatiya Janata Party (BJP), partai sayap Kanan (Hindu) yang dipimpin Narendra Modi.
Kredo politik BJP adalah Hindutva: Sebuah ideologi politik yang mempromosikan nilai-nilai agama Hindu sebagai landasan masyarakat dan budaya India. Kredo politik ini yang secara konsisten dan terus-menerus diasah dan didengungkan politikus BJP dan telah memberikan kesuksesan politik elektoral kepada partai ini. BJP terakhir kali memenangkan Pemilu India di tahun 2019 lalu. Pada tahun 2024 mendatang, India menggelar kembali pesta demokrasi setelah BJP memegang kekuasaan politik selama 10 tahun.
Rahul Gandhi, anak dari Rajiv Gandhi dan Sonia Gandhi, merupakan trah terakhir dari Pandit Jawaharlal Nehru yang memegang kepemimpinan puncak Partai Kongres. Rahul cucu Indira Gandhi dan cicit dari Pandit Jawaharlal Nehru.
Di bawah kepemimpinan Sonia Gandhi dan Rahul Gandhi, Partai Kongres India menghadapi turbulensi politik berat. Mengalami dua kali kekalahan politik di pemilu nasional India. Partai Kongres juga menderita kekalahan memalukan dalam pemilu negara bagian di Uttar Pradesh. Dari total 403 kursi parlemen negara bagian yang diperebutkan, Partai Kongres hanya mendapatkan 28 kursi. Lebih menyakitkan lagi, kekalahan itu terjadi di negara bagian tempat Partai Kongres pertama kali muncul sebagai mercusuar kemerdekaan sebelum India terbebas dari kolonialisasi Inggris pada 1947.
Selama 65 tahun kemerdekaan India, dinasti Gandhi mendominasi dunia politik negara demokrasi terbesar di dunia itu. Kakek buyut Rahul, Jawaharlal Nehru; neneknya, Indira Gandhi; dan ayahnya, Rajiv Gandhi, pernah memegang jabatan perdana menteri (PM) yang populer di era masing-masing. Nehru merupakan ayah dari PM Indira Gandhi yang tewas dibunuh tahun 1984 silam. Indira adalah ibunda dari Rajiv Gandhi yang tewas dalam serangan bom bunuh diri tahun 1991 lalu.
Partai Kongres tumbuh sebagai partai besar lebih karena mengandalkan nama besar keluarga Gandhi daripada ideologi dan pendirian politiknya.
”Dia (Rahul) membawa cap Nehru-Gandhi yang oleh partai diyakini akan mengesankan banyak orang. Partai (Kongres) itu enggan menerima kenyataan bahwa para pemilih sudah lama berhenti terpikat pada hal-hal yang berbau warisan,” tulis pengamat politik Akshaya Mishra di laman The First Post.
Seiring dengan proses modernisasi dan pembangunan dengan akselerasi yang pesat di India, aspirasi rakyat India telah bergeser. Kekaguman dan penghormatan mereka kepada tokoh politik masa lalu, terutama dinasti Gandhi, mulai berubah. Nama Gandhi tak otomatis laku dijual dan laris diperebutkan konstituen di dua kali pemilu terakhir India.
Model kampanye politik para calon anggota legislatif dari Partai Kongres yang dinilai tak berbuat apa-apa kecuali menggembar-gemborkan nama besar Gandhi dan membagi-bagikan sedekah kepada fakir miskin tak memperoleh simpati dan empati pemilih India.
Di era egalitarian dan sosial media akibat akselerasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi seperti sekarang, nama dinasti politik berbasis keluarga tak cukup efektif dipakai untuk mendapatkan jabatan politik dan merebut suara konstituen.
Di tahun 2022, kepemimpinan puncak Partai Kongres lepas dari dinasti Gandhi. Adalah Mallikarju Kharge, politikus tua yang berusia 80 yang dipercaya memimpin partai ini. Dia mantan menteri dan tak berasal dari keluarga besar dinasti Gandhi. Kharge terpilih menjadi Presiden Partai Kongres India menggantikan Sonia Gandhi.
Partai Kongres India merupakan partai besar di masa lalu yang membantu kemerdekaan India sekitar 76 tahun lalu. Tapi, mengalami kemunduran secara perlahan dan pasti beberapa waktu terakhir. Partai ini menguasai India selama bertahun-tahun setelah kemerdekaan negara itu dari Inggris di tahun 1947 silam.
Dalam dua kali pemilu terakhir di India, Partai BJP yang dipimpin Narendra Modi mengalahkan Partai Kongres. Kharge yang memegang kepemimpinan puncak Partai Kongres sekarang menghadapi tantangan besar untuk memenangkan pemilu yang dijadwalkan digelar tahun 2024 mendatang. Selain itu, di tahun 2023 bakal digelar pula tiga pemilu negara bagian di negara yang berada di kawasan Asia Selatan tersebut.
Pemilu 2024 di India menjadi test case pertama kepemimpinan Kharge di Partai Kongres. Apakah dia mampu memenangkan kontestasi politik tersebut ataukah justru Partai Kongres makin meredup kekuatannya di lanskap politik India modern. Elite Partai Kongres sedang menjalankan eksperimen formula politik baru: Melepaskan kepemimpinan puncak partai ini kepada figur di luar dinasti Gandhi.
Ainur Rohim, penanggung jawab beritajatim.com






