Surabaya (beritajatim.com) – Teknologi siber kini semakin tumbuh pesat dengan berbagai inovasinya. Namun secara bersamaan, kejahatan siber juga marak terjadi akibat dipicu kelonggaran etika.
Supangat, Pakar IT Untag Surabaya mengatakan bahwa pesatnya perkembangan teknologi siber berdampak besar bagi masyarakat. Karena itu, etika teknologi siber menjadi sorotan dan penting untuk dipelajari.
“Etika teknologi siber adalah seperangkat nilai dan prinsip moral yang digunakan untuk mengatur tindakan perilaku dalam dunia siber,” ujar Supangat, ditulis Senin (11/9/2023).
Menurutnya, teknologi siber memang memberikan manfaat yang besar bagi penggunanya. Hanya saja, jika hal itu tidak diatur secara baik justru akan berdampak negatif bagi pengguna.
Begitu juga dalam aspek hukum. Kata dia, teknologi memiliki dampak besar dalam sistem hukum. Misalnya saja sebagai bukti elektronik, jaringan komunikasi yang aman, dan perangkat lunak intelijen buatan.
“Namun tindak kejahatan dalam teknologi siber seperti hacking dan pencurian identitas itu dapat menimbulkan kerugian besar ya bagi korban, dan harus ditindak pihak yang berwenang,” katanya.
Dalam hal ini, Supangat menilai pentingnya menjaga keamanan data dan privasi bagi para pengguna. Sebab, jika tidak memahami etika teknologi siber dapat terjadi peretasan perangkat seperti kebocoran data pribadi.
Untuk menanggulangi hal itu, Supangat merekomendasikan agar pengguna menerapkan manajemen sandi yang kuat dalam autentikasi sehingga dapat membantu melindungi privasi.
“Selain itu perlu melindungi obrolan online, aplikasi obrolan online itu harus memiliki enkripsi akhir untuk memastikan pesan tidak dapat dibaca oleh pihak ketiga,” kata Supangat.
Kaprodi Sistem dan Teknologi Informasi (Sistekin) Untag Surabaya itu juga membeberkan sejumlah dampak yang ditimbulkan oleh berkembangnya teknologi siber bagi masyarakat, baik itu positif maupun negatif.
“Positifnya, satu, kita ada peningkatan akses informasi dan pendidikan. Kedua, akan mempercepat komunikasi dalam sebuah pekerjaan. Ketiga, mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk sebuah bisnis dalam industri,” sebutnya.
Sedangkan dampak negatifnya, pertama yakni kejahatan siber dan penggunaan teknologi dapat menyebabkan kerugian besar. Kedua, bertambahnya ketergantungan pada teknologi, dan ketiga menimbulkan masalah keamanan dan privasi pengguna.
BACA JUGA:
ITS dan Kampus di Surabaya Bentuk Tim CSIRT untuk Keamanan Siber
Oleh karena itu, Supangat berpesan kepada masyarakat agar memahami penanggulangan kejahatan siber. Misalnya dengan melakukan pelatihan keamanan siber yang tepat. Di sisi lain, juga diperlukan adanya regulasi secara ketat untuk melindungi masyarakat.
“Perlu adanya regulasi yang lebih ketat terkait dengan penggunaan teknologi yang melindungi masyarakat dan memastikan penggunaan teknologi itu harus memadai,” tandas Supangat. [ipl/but]






