Surabaya (beritajatim.com) – Jurusan kedokteran di UM Surabaya tahun 2023 ini menerima empat anak kembar. Mereka adalah Dlani-Rizqi dan Nafi’ah-Nailah. Keempatnya menjadi mahasiswa inspiratif.
Dlani dan Rizqi merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UM Surabaya. Mereka berasal dari Dusun Battangan, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura.
Keduanya bercerita bahwa sejak kecil mulanya bercita-cita menjadi seorang polisi, namun cita-cita itu berubah seiring berjalannya waktu. Tepatnya sejak pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
“Jadi orang tua kami kebetulan adalah tenaga kesehatan yang berprofesi sebagai perawat di puskesmas di Sumenep. Saat Covid-19 kami melihat perjuangan keduanya, entah mengapa kejadian covid membuat kami ingin menjadi seorang dokter,” ujarnya, Rabu (20/9/2023).
Mereka mengungkapkan, saat menjadi siswa di SMA Muhammadiyah 1 Sumenep keduanya juga aktif mengikuti berbagai ajang kompetisi dan meraih juara, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Ditanya plan jangka pendek dan jangka panjang, dalam waktu dekat keduanya tak ingin mengecewakan orang tuanya. Mereka ingin mendaptkan IPK bagus dan lulus tepat waktu dengan mendapatkan predikat cumlaude.
Si kembar Nafi’ah dan Nailah Lolos FK FKG UM Surabaya dengan Jalur Prestasi

Sementara Nafi’ah dan Nailah berhasil lolos Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UM Surabaya lewat jalur prestasi. Saudara kembar ini mengaku jika menjadi seorang dokter adalah cita-cita mereka sejak kecil.
Keduanya merupakan kelahiran Tambana Kota Nusa Tenggara Barat (NTB). Dikatakan Nafi’ah, bahwa ayahnya Damhuri dan ibunya Rahmayanti bukan seorang dari tenaga kesehatan, namun beberapa keluarga dari ibunya menjadi dokter.
Sementara itu Nailah mengaku, keinginannya menjadi dokter juga dilatarbelakangi meningkatkan kinerja tenaga medis di wilayah kecil, khususnya di NTB.
“Di NTB jumlah dokter masih terbatas apalagi dokter spesialis, sehingga menjadi kendala dalam menangani pasien. Harapannya setelah lulus bisa terlibat dalam memberikan kontribusi di wilayah kesehatan,” ujar Nailah.
Mereka menyebut memiliki hobi sama yakni membaca buku. Sejak kecil, ayah dan ibunya sering membelikan banyak buku salah satunya novel KKPK, sehingga keduanya memiliki ketertarikan tinggi terkait membaca.
Nailah menceritakan, saat duduk di bangku SMA ia pernah mendapatkan sertifikat tahfidz 10 juz, ia juga kerap menjadi koordinator agenda besar. Setelah lolos di UM Surabaya ini, mereka ingin membanggakan orang tua dengan aktif di organisasi dan mendapatkan IPK bagus tiap semester. “Mahasiswa kedokteran itu kan padat aktivitasnya. Jadi, semoga bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya, dan yang paling penting bisa lulus tepat waktu,” pungkas Nailah. [ipl/kun]
BACA JUGA: Cerita Anak Buruh Serabutan Asal Bojonegoro Raih Beasiswa di UM Surabaya






