Kediri (beritajatim.com) – Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan menjadi sorotan utama dalam diskusi yang digelar oleh DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Fave Hotel Kediri, Minggu (16/3/2024) sore. Acara ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Fraksi Partai NasDem, Khusnul Arif, S.Sos, serta narasumber lainnya yakni Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4), Imam Mubarok (Gus Barok), dan Ketua PWI Kediri Raya, Bambang Iswayoedi.
Khusnul Arif menekankan pentingnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai panduan arah pembangunan selama lima tahun ke depan.
“Secara umum, kebetulan ini tahun memulai kepemimpinan periode yang baru. Saat ini seluruh pemerintah daerah, kota, kabupaten, dan provinsi, dalam waktu dekat membahas RPJMD. RPJMD ini menjadi bagian dari visi misi gubernur terpilih, maupun walikota dan bupati terpilih. Nanti akan kelihatan, arah pembangunan selama 5 tahun ke depan itu seperti apa, termasuk di dalamnya infrastruktur,” ujarnya.
Khusnul juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, terutama di Kabupaten dan Kota Kediri. “Ada pembangunan infrastruktur yang sifatnya berkelanjutan, tidak bisa kita selesaikan dalam 2-3 tahun. Ada juga pembangunan yang memang ada potensi jangka pendek,” jelasnya.
Ia mencontohkan perlunya pembangunan infrastruktur untuk mengantisipasi bencana, seperti banjir yang pernah terjadi di Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.
“Pemerintah harus melakukan kajian yang mendalam. Ada potensi-potensi di titik rawan kita, yang bisa terjadi banjir. Seperti yang sudah terjadi di Plosoklaten. Saya dengar Pemerintah Daerah sudah berkirim surat ke PTPN. Alhamdulillah. Bahwa lahan yang dikelola oleh PTPN ini, sebagaimana fungsi seharusnya. Kalau alih fungsi, misalkan tanaman keras menjadi tanaman musiman, ini tidak sesuai,” paparnya.
Sementara itu, Imam Mubarok (Gus Barok) mengkritisi kualitas pembangunan infrastruktur saat ini. “Kenapa dulu bangunan-bangunan kolonial bisa lama, sekarang kok tidak. Ini perlu dicermati, bahwa banyak hal yang harus kita pahami, keseimbangan di antaranya adalah bagaimana menentukan proyek itu sematang mungkin, tidak tergesa-gesa,” ujarnya.
Gus Barok membandingkan kualitas gorong-gorong buatan Belanda yang bertahan ratusan tahun dengan gorong-gorong saat ini yang hanya bertahan maksimal lima tahun. “Contoh, Belanda membuat gorong-gorong yang bisa umurnya ratusan tahun. Sementara gorong-gorong kita maksimal umurnya 5 tahun, sudah dibongkar lagi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam setiap proyek pembangunan. “Untuk AMDAL itu, harus dipikirkan lebih dahulu sebelum pembangunan. Seperti kemarin, kasus di Jawa Barat, Gubernur sampai marah-marah, karena pembangunan yang di luar nalar. Ini di Kediri juga ada nantinya,” tegasnya.
Acara yang dimoderatori oleh Ayu Citra dari RRI ini dihadiri oleh kalangan jurnalis, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta masyarakat. Khusnul Arif berharap, kehadiran jurnalis dapat memberikan masukan berharga.
“Harapan saya dengan kita menghadirkan peserta dari jurnalis, ini penting buat saya. Karena teman-teman jurnalis ini paling update sumber informasi di lapangan. Harapan saya bisa memberi feedback kepada kami, kemudian kita komunikasikan kepada eksekutif, dan mitra kerja kami,” tutupnya. [nm/but]






