Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi D DPRD Surabaya Abdul Malik meminta penguatan inspeksi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pascakecelakaan gondola di Tower B Ascott Waterplace, Surabaya Barat. Dia menilai insiden yang menewaskan seorang pekerja itu harus menjadi evaluasi serius terhadap sistem pengawasan pekerjaan di ketinggian.
“Semua pihak yang terlibat harus memastikan standar keamanan benar-benar diterapkan,” ujar Malik, Selasa (3/3/2026).
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/3/2026) saat hujan deras dan angin kencang melanda Surabaya Barat. Korban bernama Edy Suparno (51), warga Tambak Wedi Baru Surabaya, meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Menurut Malik, pekerjaan menggunakan gondola memiliki tingkat risiko tinggi dan membutuhkan kepatuhan ketat terhadap prosedur keselamatan. Dia menilai kondisi cuaca ekstrem seharusnya menjadi pertimbangan utama untuk menghentikan sementara aktivitas kerja.
“Keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai pekerjaan tetap dipaksakan saat kondisi cuaca tidak memungkinkan, karena risikonya sangat fatal,” katanya.
Secara regulatif, keselamatan kerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja beserta aturan turunannya. Pengawasan pelaksanaan K3 berada di bawah kewenangan instansi ketenagakerjaan yang berwenang.
Malik mendorong agar inspeksi terhadap pekerjaan di ketinggian dilakukan rutin dan menyeluruh. Dia juga meminta perusahaan memiliki kebijakan tegas terkait penghentian kerja saat situasi membahayakan.
“Perusahaan harus memiliki aturan yang jelas terkait penghentian sementara aktivitas kerja di ketinggian ketika kondisi cuaca membahayakan. Kebijakan keselamatan kerja harus tegas dan dijalankan dengan pengawasan yang ketat,” tegasnya.
Dia menambahkan koordinasi antara pemerintah kota dan pengawas ketenagakerjaan perlu diperkuat untuk memastikan kelayakan alat, penggunaan alat pelindung diri, dan mitigasi risiko berjalan konsisten.
“Perlindungan terhadap pekerja harus ditempatkan di atas segala kepentingan. Evaluasi ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Malik. [ADV/beq]






