Pasuruan (beritajatim.com) – Angka pasien penderita kusta di Kabupaten Pasuruan terus meningkat. Namun, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pasuruan, Arif Junaedi memastikan pada 2025 mendatang kasus kusta bisa dituntaskan.
Hal ini mulai terlihat di wilayah Kecamatan Nguling yang mempunyai pasien dengan gejala penyakit kusta paling tinggi. Terhitung pada 2020 lalu, angka kesakitannya mencapai 3,5 persen dari 10 ribu penduduk dan menurun pada 2023 sampai 1,7 persen.
Kepala Puskesmas Nguling, dr Eko Santoso Machfur mengatakan menurunnya angka penderita kusta ini bukanlah hal yang mudah. Sebab, Eko sebelumnya telah melakukan pemetaan di Kecamatan Nguling untuk menemukan warga yang menyidap penyakit Kusta.
“Kami sebelumnya melakukan pemetaan dan mendata warga yang terkena penyakit Kusta. Setelah kami data, warga kami beri pengertian dan melakukan pengobatan secara rutin, sampai penyakit yang dideritanya sembuh,” kata Eko, Kamis (27/7/2023).
BACA JUGA:
DPRD Kabupaten Pasuruan Kirim Nama Pj Bupati Dua Minggu Lagi
Eko juga mengatakan bahwa penyakit kusta ini sangat berbahaya, dan penyebarannya sangat mudah. Yakni dengan cara menyebar melalui air liur yang keluar dari mulut secara terus menerus. Eko juga mengatakan bahwa kondisi cuaca saat ini bisa mempermudah virus menyebar karena dengan dukungan angin yang berhembus.
Pengidap penyakit kusta ini mulanya tak merasakan gangguan kesehatan signifikan. Hanya muncul bintik berwarna putih di bagian tubuh tertentu.
Bahkan warga yang terkena penyakit ini tak akan merasakan gatal, badan meriang, maupun batuk pilek. Hal ini lah yang mengakibatkan sejumlah warga tak menghiraukan penyakit kusta.
BACA JUGA:
DPRD Kota Pasuruan Usul Pembangunan SMA Baru di Kecamatan Bugul Kidul
Namun jika diabaikan, penyakit ini akan terus menyebar hingga bagian dalam tubuh dan merusak persendian. Sehingga nantinya para pengidap penyakit ini akan mengalami cacat, bahkan paling parah mengalami patah di bagian persendian dan lumpuh.
Meskipun mengakibatkan kelumpuhan, penyakit kusta bisa disembuhkan dan dihilangkan dengan melakukan beberapa pengobatan. Bahkan setelah berhasil sembuh, menurut Eko tak sedikit juga dari pasiennya dikucilkan dari sosial lingkungannya.
Sehingga dengan hal ini Eko, memberdayakan para mantan penyandang penyakit kusta ini dengan membuat beberapa kerajinan. “Kami punya inovasi bagi para mantan pasien yang terkena Kusta untuk memberdayakannya. Salah satunya dengan membuat keset yang nantinya akan dijual,” sambungnya. [ada/beq]






