Malang (beritajatim.com) – Nasib pilu dialami Muhammad Mundzir Samudra Billah, seorang mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2025. Impiannya untuk mendalami dunia Film dan Televisi harus terkubur seketika. Bukan karena tidak lulus seleksi, melainkan karena minat konsentrasi yang telah resmi menerimanya ternyata sudah dihapus.
Kabar mengejutkan ini ia terima secara lisan dari dosen di dalam kelas, meninggalkan ia dan keluarganya dalam kekecewaan dan kebingungan mendalam atas carut-marut administrasi salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.
Mugiharto, orang tua dari Samudra, mengungkapkan keterkejutannya saat mendengar kabar tersebut dari putranya pada sore hari, 21 Agustus 2025.
“Terus terang kami terkejut dan sangat kecewa. Anak kami pulang dari kampus membawa kabar bahwa konsentrasi minatnya sudah dihapus, pemberitahuannya pun hanya secara lisan di kelas,” jelas Mugiharto saat diwawancarai pada Kamis (28/8/2025).
Menurut penuturan Mundzir, informasi penghapusan itu ia dapatkan langsung dari dosennya pada hari Kamis. “Saya benar-benar merasa kecewa, mengingat saya telah dinyatakan lulus secara resmi sejak administrasi awal. Saya juga sudah mempersiapkan diri untuk kuliah di jurusan impian saya, maka saya sangat kecewa sekali,” ungkap Mundzir.
Pihak Vokasi UB, menurut Mundzir, beralasan bahwa penghapusan program konsentrasi minat Film & Televisi di Program Studi Teknologi Informasi didasarkan pada kebijakan dan peraturan internal universitas yang berlaku sejak tahun 2023. Angkatan 2022 disebut sebagai angkatan terakhir.
Namun, muncul sebuah kejanggalan besar yang dipertanyakan pihak keluarga. “Janggalnya, di jalur mandiri tahun 2025 program ini masih dibuka dalam sistem pendaftaran, belum dihapus. Masih ada,” tegas Mugiharto.
Saat kejanggalan ini dipertanyakan, pihak UB hanya memberikan jawaban yang sulit diterima. “Pihak UB hanya menjawab dengan alasan kelalaian dikarenakan sistem mereka yang mengalami error,” jelas Samudra menirukan penjelasan pihak kampus.
Sebagai konsekuensi dari error sistem tersebut, pihak UB menawarkan dua opsi kepada keluarga yang terasa seperti buah simalakama.
“Opsi pertama adalah pindah prodi, yaitu ke Administrasi Bisnis atau Keuangan Perbankan. Jika tidak mau, berarti tetap di prodi Teknologi Informasi tapi tanpa konsentrasi Film & TV,” papar Mugiharto.
Tawaran ini sontak memberatkan pihak keluarga, karena kedua prodi yang ditawarkan sama sekali tidak sejalan dengan minat dan bakat yang ingin diasah oleh Samudra. “Jurusan prodi tersebut sungguh bertolak belakang dengan minat bakat anak kami,” keluhnya.
Kini, Samudra dan keluarganya hanya bisa berharap ada itikad baik dan solusi yang adil dari pihak universitas.
“Pesan yang saya ingin sampaikan kepada pihak rektorat UB, semoga masalah ini cepat selesai dan ketemu titik terang di mana solusi yang paling baik. Semoga ke depannya kejadian seperti ini tidak terulang, dengan memprioritaskan kejelasan dan kemudahan proses administrasi mereka,” tutup Mundzir penuh harap.

Menanggapi polemik ini, Dekan Fakultas Vokasi UB, Dr. Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa Program Studi D4 Teknologi Informasi tidak pernah dihapus dan masih aktif hingga sekarang.
”Yang perlu diluruskan, prodinya (Teknologi Informasi) tidak dihapus. Yang sudah tidak ada itu adalah peminatannya (konsentrasi Film dan Televisi),” tegas Kholid Mawardi saat dikonfirmasi hari ini.
Menurutnya, penghapusan peminatan di dalam program studi vokasi telah dilakukan sejak tiga tahun lalu, dengan angkatan 2022 sebagai yang terakhir. Kebijakan ini diambil berdasarkan rekomendasi asesor yang menyatakan bahwa program di level D3 dan D4 seharusnya menjadi monoprogram atau tidak memiliki penjurusan atau konsentrasi.
”Sesuai rekomendasi asesor dan kebijakan internal, tidak boleh ada peminatan di level D3 maupun D4,” tambahnya.
Dengan demikian, nasib mahasiswa yang terlanjur memilih konsentrasi FTV akan tetap melanjutkan studi di Program Studi Teknologi Informasi, namun tanpa adanya penjurusan spesifik tersebut.
Saat ditanya mengapa opsi peminatan yang sudah tidak ada masih muncul di sistem seleksi, Dekan menyarankan untuk mengonfirmasi hal tersebut ke direktorat yang mengurus seleksi mahasiswa. “Nanti bisa di Direkturnya lah kalau ingin menanyakan, atau di bagian seleksi mahasiswa,” ujarnya. (dan/but)






