Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah sore menjelang maghrib, Jumat (28/3/2025), halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno menjadi saksi nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Sejumlah pemuda dengan penuh semangat membagikan takjil kepada pengguna jalan yang melintas. Namun, ada yang membuat kegiatan ini lebih istimewa. Bukan hanya para santri atau pemuda Muslim yang terlibat, tetapi juga pemuda-pemudi Kristen dari Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) GKJW Mojowarno.
Bersama dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Mojowarno, mereka menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya slogan, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua PAC IPNU Mojowarno, Ferdy Arya Pratama, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan gerakan nyata untuk menanamkan nilai toleransi di hati generasi muda.
“Acara ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus merawat keberagaman. Dengan toleransi, kita membangun jembatan antara perbedaan dan menciptakan kesatuan. Inilah yang harus terus dijaga,” ujarnya, Sabtu (29/3/2025).
Mojowarno sendiri dikenal sebagai kawasan yang harmonis dalam keberagaman. Masjid dan gereja berdiri berdampingan, menjadi simbol kehidupan masyarakat yang saling menghormati satu sama lain. Namun, di tengah maraknya gesekan berbasis identitas di berbagai tempat, Ferdy menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat persaudaraan lintas agama.
Ketua KPPM GKJW Mojowarno, Novi Kartika Sari, menambahkan bahwa berbagi takjil dan berbuka puasa bersama bukan sekadar tentang makanan, tetapi juga membangun jalinan persaudaraan yang lebih erat.
“Mungkin bagi sebagian orang, kegiatan ini tampak sederhana. Tapi bagi kami, ini adalah langkah kecil yang memiliki makna besar dalam menjaga tali persaudaraan lintas agama,” kata Novi.
Acara ini juga dimeriahkan dengan sesi berbagi cerita bertema “Ramadhan Milik Semua, Merawat Keberagaman” yang dipandu oleh komunitas Gusdurian Jombang. Dalam momen reflektif ini, peserta dari berbagai latar belakang agama duduk bersama, saling mendengarkan, dan memperkuat kebersamaan.
Sebanyak 400 porsi takjil dibagikan hari itu. Namun, yang lebih berarti dari sekadar angka adalah pesan yang tertanam dalam hati setiap peserta: bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirayakan.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti di sini. Mari kita gaungkan semangat ini ke komunitas lain, agar semakin banyak pemuda lintas iman yang tergerak untuk bersama menjaga harmoni,” harap Novi.
Di Mojowarno, keberagaman bukan hanya teori, tetapi nyata dalam tindakan. Ia hadir dalam secangkir teh hangat yang disajikan di meja berbuka, dalam senyum tulus saat takjil berpindah tangan, dan dalam doa-doa yang terpanjatkan untuk perdamaian. Sore itu, di halaman GKJW Mojowarno, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan hati. [suf]






