Bojonegoro (beritajatim.com) – Kasus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada hewan ternak kembali mengalami lonjakan. Secara nasional penyebaran kasus tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Tengah, kemudian disusul Provinsi Jawa Timur dan urutan ketiga Provinsi Sulawesi Selatan.
“Dalam 4 mingggu terakhir kasusnya meningkat dan vaksinasi menurun,” ujar Waka Kordalops Satgas PMK Nasional, Brigadir Jenderal Polisi Ary Laksmana Widjaja saat rapat koordinasi Penanganan PMK di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Rabu (25/01/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-PMK”]
Sesuai data yang ada di Satgas Penanganan PMK Nasional, dalam empat minggu terakhir kasus konfirmasi mingguan meningkat dan dua bulan terakhir laju suntikan vaksin menurun. Vaksinasi hewan ternak ini padahal dinilai paling efektif untuk menekan laju pertumbuhan kasus baru.
“Secara umum penurunan laju vaksinasi diikuti dengan meningkatnya kasus konfirmasi,” ujarnya.
Kasus konfirmasi PMK secara nasional per tanggal 24 Januari 2023 ini sebanyak 613.567 kasus dan sembuh klinis 581.046 atau 94,70 persen. Sedangkan yang mati atau potong bersyarat sebanyak 25.682 atau 4,19 persen. Sedangkan kasus aktif sebanyak 6.839 kasus atau 1,11 persen.
Kasus aktif berdasarkan provinsi per 23 Januari 2023 di Jawa Tengah sebanyak 2.464 kasus, kemudian Jawa Timur sebanyak 1.778 kasus, Jawa Barat 896 kasus, dan Sumatra Barat 894 kasus. Di Jawa Tengah, kabupaten yang kasusnya terbanyak berada di Kabupaten Pati sebanyak 877 kasus, Rembang ada 634 kasus dan Kabupaten Blora ada 359 kasus.
Untuk Jawa Timur, kasus aktif tertinggi berada di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 465 kasus, Ngawi 281 kasus dan Kabupaten Tuban ada 153 kasus. Sumatra Barat berada di Kabupaten Dharmasraya ada 614 kasus dan Pasaman Barat 132 kasus. Sedangkan Sulawesi Selatan ada di Kabupaten Bone sebanyak 56 kasus dan Sinjai 21 kasus.
Sementara sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Catur Rahayu mengatakan, kasus PMK di Kabupaten Bojonegoro mengalami peningkatan sejak awal Tahun 2023. Kebanyak kasus yang terjadi berbeda dengan kasus sebelumnya. “Sekarang gejala sakit yang dialami oleh ternak tampak tidak terlalu parah. Tetapi, kematian pada ternak cukup tinggi,” terangnya. [lus/kun]






