Yogyakarta (beritajatim.com)- Kasus leptospirosis atau yang lebih dikenal sebagai penyakit kencing tikus kembali menunjukkan tren peningkatan pada awal tahun 2026. Musim hujan yang masih berlangsung dinilai menjadi faktor utama meningkatnya risiko penularan penyakit ini di berbagai wilayah.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Secara global, penyakit ini menyebabkan lebih dari satu juta kasus setiap tahun, dengan angka kematian mencapai puluhan ribu jiwa. Indonesia termasuk negara dengan tingkat kejadian cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lonjakan kasus leptospirosis di sejumlah provinsi pada pertengahan 2025. Jawa Tengah menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Provinsi lain seperti Jawa Barat, Banten, hingga DKI Jakarta juga melaporkan adanya kasus, meskipun dalam jumlah lebih rendah.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD., menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penyebabnya adalah bakteri Leptospira interrogans yang banyak ditemukan pada tikus, namun juga bisa berasal dari hewan lain seperti anjing, kucing, sapi, kambing, hingga babi.
“Bakteri ini bisa bertahan lama di saluran kemih hewan dan keluar bersama urin. Jika mencemari air atau tanah, risiko penularannya ke manusia sangat tinggi,” jelas dr. Noviantoro.
Gejala Mirip Flu, Tapi Bisa Berujung Fatal
Salah satu tantangan utama leptospirosis adalah gejalanya yang tidak khas. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun nyeri otot pada leptospirosis umumnya terasa kuat di bagian betis, punggung, dan perut.
Pada kondisi yang lebih parah, penyakit ini dapat memicu perdarahan, gangguan fungsi hati yang ditandai dengan tubuh menguning, hingga gagal ginjal akut. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat membahayakan nyawa.
“Ketika ginjal terganggu, produksi urin menurun sehingga racun dalam tubuh tidak bisa keluar dan justru menumpuk,” ujarnya.
Penularan Rentan Terjadi Saat Musim Hujan
Bakteri leptospira masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka atau selaput lendir seperti mata dan mulut. Lingkungan lembap seperti genangan air, selokan, sawah, dan sungai berarus lambat menjadi tempat ideal bagi bakteri ini bertahan hidup hingga berbulan-bulan.
Karena itu, musim hujan menjadi periode paling rawan penularan. Masyarakat yang sering beraktivitas di luar ruangan, membersihkan saluran air, atau bekerja di area banjir memiliki risiko lebih tinggi.
Dr. Noviantoro menyarankan penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat beraktivitas di lingkungan berisiko, serta menghindari kontak langsung dengan air tergenang jika tidak mendesak.
Pentingnya Deteksi Dini dan Riwayat Paparan
Leptospirosis kerap sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti demam berdarah dan tifus karena gejalanya hampir serupa. Oleh sebab itu, riwayat paparan lingkungan menjadi informasi penting bagi tenaga medis.
“Penanganan awal mungkin serupa, yang penting pasien berada dalam pengawasan. Perbedaan utamanya, risiko kematian leptospirosis sering muncul pada minggu kedua,” jelasnya.
Masyarakat diimbau tidak panik jika mengalami gejala mencurigakan, namun segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dengan penanganan cepat dan tepat, peluang sembuh tetap sangat tinggi. [aje]






