Banywangi (beritajatim.com) – Kasus HIV/AIDS di Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, hingga Oktober 2025, tercatat total 289 orang dengan HIV (ODHIV) dan 95 orang yang sudah mengidap AIDS.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 95 orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Peningkatan kasus ini disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk rendahnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Amir Hidayat mengungkapkan bahwa hampir setengah dari pengidap HIV/AIDS di Banyuwangi berasal dari kalangan pekerja seks dan pelanggan industri prostitusi.
“Artinya, kedua kelompok tersebut menjadi penyumbang mayoritas pengidap dari praktik seks berisiko,” kata Amir, Selasa (7/10/2025).
Secara rinci, kelompok pelanggan pekerja seks mendominasi dengan angka 31,2 persen, disusul oleh wanita pekerja seks sebesar 15,1 persen. Jika digabungkan, kedua kelompok ini menyumbang hampir separuh dari total pengidap HIV/AIDS di Banyuwangi.
Selain prostitusi, kelompok lain juga turut berkontribusi pada peningkatan angka pengidap HIV/AIDS. Lelaki Suka Lelaki (LSL) mencatatkan persentase 23,7 persen, disusul oleh pasangan risiko tinggi sebesar 16,1 persen dan pasangan ODHIV sebesar 10,8 persen. Angka pengidap HIV/AIDS dari kelompok waria dan pengguna narkoba relatif lebih kecil, masing-masing 2,2 persen dan 1,1 persen.
Amir menjelaskan bahwa kemudahan akses untuk melakukan transaksi seksual menjadi salah satu faktor utama penyumbang tingginya angka pengidap HIV/AIDS. Perkembangan teknologi informasi, terutama media sosial seperti Facebook dan aplikasi Michat, menjadi sarana baru bagi para pelaku prostitusi untuk menawarkan layanan mereka. “Kadang mereka sekarang lebih berani menawarkan diri melalui Facebook dan aplikasi Michat,” tambahnya.
Meskipun ada penurunan kasus HIV/AIDS pada tahun 2024 dibandingkan tahun 2023, angka kematian justru meningkat. Pada 2024, tercatat 463 kasus HIV dan 43 kasus AIDS, dengan 56 kasus kematian. Sementara itu, di tahun 2023, meski jumlah kasus HIV mencapai 544 dengan 184 kasus AIDS, angka kematian hanya 14 orang.
Perbedaan ini, menurut Amir, disebabkan oleh penurunan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat yang berujung pada peningkatan angka kematian. [als/suf]






