Lamongan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamongan mencatat sebanyak 37 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi sepanjang Januari hingga Maret 2026. Meski jumlah ini menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan, Yani Khoirurahmahwati, mengungkapkan selain kasus DBD, pihaknya juga menangani puluhan kasus lainnya dengan kategori berbeda.
“Saat ini tercatat ada 37 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sudah terkonfirmasi. Selain itu, kami juga menangani 48 kasus Demam Dengue (DD) serta 11 pasien yang masuk kategori suspect DBD,” ujar dr. Yani, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa DBD dan Demam Dengue (DD) memiliki tingkat keparahan yang berbeda, di mana DD cenderung lebih ringan. Namun, pengawasan tetap dilakukan secara ketat untuk mencegah kondisi pasien memburuk.
“Pengawasan terhadap pasien suspek maupun DD tetap dilakukan secara intensif agar kondisi mereka tidak memburuk menjadi DBD yang lebih berat atau Dengue Shock Syndrome (DSS),” ujarnya.
Data tersebut menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Pada tahun lalu, total kasus DBD mencapai 437 kasus hingga akhir April, bahkan hanya pada Januari saja tercatat sebanyak 205 kasus.
“Pada 2025 itu, untuk bulan Januari saja sebanyak 205 kasus,” ujarnya.
Meski demikian, Dinkes menegaskan bahwa penurunan angka kasus tidak boleh membuat masyarakat lengah. Upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit.
“Tterutama dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat umum,” tuturnya.
Yani menekankan bahwa langkah paling efektif dalam pencegahan bukan hanya melalui fogging, melainkan dengan memutus rantai perkembangbiakan nyamuk melalui gerakan 3M Plus.
“Kami mengimbau masyarakat untuk kembali menggencarkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus. Jangan menunggu ada kasus baru bergerak, karena pencegahan jauh lebih utama daripada pengobatan,” ucapnya. [fak/beq]






