Gresik (beritajatim.com)- Intensitas musim hujan yang cukup tinggi di Kota Gresik, berdampak pada kasus demam berdarah dangue (DBD). Pasalnya, penyakit mematikan itu semakin bertambah. Dua bulan terakhir, tercatat sudah ada 21 kasus DBD, jumlah itu belum termasuk suspek.
Sepanjang tahun 2022 ini tercatat sudah ada 217 kasus DBD. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan tahun tahun lalu yang hanya mencapai 191 kasus.
“Meningkatnya kasus DBD sampai saat ini tidak ada pasien yang dirawat disini,” ujar Direktur Utama RSUD Ibnu Sina dr Soni, Rabu (2/11/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”demam-berdarah”]
Berdasarkan data empiris, kasus
DBD di Gresik ini cukup mengerikan. Bahkan, ruangan untuk pasien di RSUD Ibnu Sina sempat kehabisan hingga dirawat di lorong-lorong rumah sakit.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dr Mukhibatul Khusna mengatakan, saat ini masih merupakan tahap awal. Biasanya, puncak nyamuk aedes aegypty ini menyerang pada bulan Januari hingga Maret 2023.
“Di bulan Januari 2023 biasanya kasusnya tinggi, ini perlu diwaspadai bersama,” katanya.
Khusna menambahkan, terkait dengan DBD ini dirinya meminta agar masyarakat menerapkan 3M plus. Sebab, cara itu paling efektif mencegah DBD ini dengan menghilangkan tempat berkembangbiaknya nyamuk.
“Harus rutin dibersihkan, terutama pada tempat-tempat ada genangan air,” imbuhnya.
Meski baru 11 kasus di bulan Oktober lalu, namun tren DBD menunjukan kenaikan. Terlebih lagi, gejala gejala yang muncul pada pasien mengarah ke DBD. Hanya saja indikatornya belum memenuhi sehingga baru ditetapkan sebagai suspek.
“Cuaca kadang hujan, kadang tidak pasti banyak sekali genangan air. Kondisi seperti ini yang dikuatirkan menjadi tempat nyamuk berkembangbiak. Sehingga, perlu rutin dibersihkan seminggu tiga kali,” pungkas Khusna. (dny/kun)






