Tulungagung (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, sebagai respons atas meningkatnya kasus suspek campak. Desa tersebut menjadi lokasi prioritas karena mencatat jumlah temuan tertinggi dibanding wilayah lain.
Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 44 kasus suspek campak di Kabupaten Tulungagung. Dari jumlah tersebut, satu kasus telah terkonfirmasi positif dan kini dilaporkan sudah sembuh.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan bahwa ORI merupakan langkah imunisasi massal yang menyasar seluruh balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.
“Kalau rekomendasi dari WHO sebenarnya untuk Tulungagung cukup kejar imunisasi campak saja, dengan melihat status imunisasi sebelumnya. Tapi khusus di Ringinpitu, kita lakukan ORI dengan sasaran 350 balita tanpa melihat status imunisasi,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Menurut Aris, pemilihan Desa Ringinpitu didasarkan pada tingginya jumlah temuan kasus suspek dibandingkan wilayah lain di Tulungagung. Ia juga memastikan bahwa kasus positif yang ditemukan pada awal tahun telah sembuh sepenuhnya.
“Update bulan Maret ada 44 suspek. Untuk yang positif hanya satu dan itu sudah sembuh. Kita temukan yang positif itu pada awal tahun. Saat ini semuanya masih dalam kategori suspek,” tuturnya.
Dinkes mencatat adanya peningkatan jumlah kasus dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, jumlah suspek campak hanya sekitar 20 kasus dengan satu kasus positif.
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, namun dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. Oleh karena itu, langkah ORI dan imunisasi kejar dinilai penting untuk memutus rantai penularan.
Program imunisasi ini ditargetkan rampung hingga akhir April 2026. Dinkes Tulungagung berharap upaya tersebut mampu menekan potensi penyebaran campak secara lebih luas, sekaligus memperkuat kekebalan kelompok di masyarakat.
“Upaya yang kita lakukan adalah imunisasi kejar, agar bisa memproteksi balita dan memperkuat kekebalan kelompok di lingkungan mereka,” pungkasnya. [nm/beq]






