Sumenep (beritajatim.com) – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo melakukan langkah khusus menyikapi melonjaknya temuan kasus campak di Kabupaten Sumenep.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Unicef terkait penanganan campak di Sumenep. Targetnya dalam 1 bulan ini jumlah penderita campak bisa menurun,” katanya, Selasa (19/08/2025).
Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, sejak Januari – Agustus 2025, ditemukan sebanyak 1.534 kasus campak. Data tersebut dihimpun dari 30 puskesmas yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan, serta empat rumah sakit rujukan di Sumenep, yaitu RSUD dr H Moh Anwar, RSI Garam Kalianget, RSU Sumekar, dan RSIA Esto Ebhu. Karena itu, kasus campak di Kabupaten Sumenep telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Tingginya kasus campak ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Sumenep. Disini ditetapkan sebagai KLB agar ada penyelesaian secepatnya. Ada penanganan khusus,” tandas Bupati.
Ia meminta agar pihak-pihak terkait memberikan data sesungguhnya, agar bisa segera mendapatkan penyelesaian.
“Jangan mengaburkan data. Buka data sesungguhnya. Biar segera teratasi. Karena campak ini penyakit menular, meski tidak membahayakan. Tapi juga bisa beresiko kematian, apabila penanganannya terlambat,” terang Bupati.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas P2KB Kabupten Sumenep, Achmad Syamsuri mengatakan, untuk menekan penyebaran campak, pihaknya menggencarkan program ‘Sepekan Mengejar Imunisasi’ guna meningkatkan cakupan vaksinasi. Selain itu, upaya pencegahan juga dilakukan dengan membentuk Desa Imunisasi Mantap (Iman) di setiap kecamatan.
“Kami juga memperkuat koordinasi lintas sektor dan program terkait untuk mempercepat penanganan campak. Sedangkan untuk pemantauan cakupan imunisasi dilakukan secara berkala, termasuk memetakan wilayah rawan,” ungkapnya. [tem/aje]






