Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPC Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso menyampaikan keprihatinannya atas kasus penganiayaan balita 4 tahun di kota pahlawan. Dia meminta penanganan tegas sekaligus penguatan peran Kampung Pancasila agar benar-benar menjadi benteng perlindungan anak di tingkat kampung.
“Peristiwa ini tidak bisa dianggap kasus biasa. Ini alarm serius bahwa ada celah dalam pengawasan sosial dan sistem pencegahan kekerasan dalam keluarga,” kata Cahyo, Senin (16/2/2026).
Anggota Komisi E DPRD Jatim ini menegaskan, sanksi hukum terhadap pelaku harus dijatuhkan secara tegas sebagai peringatan bagi masyarakat. Menurutnya, langkah itu penting untuk mencegah terulangnya kasus serupa di kemudian hari.
“Kami berharap ada sanksi tegas baik kepada pelaku maupun untuk membangun peringatan kepada masyarakat tentang akibat hukum dari perilaku kekerasan terhadap anak ini,” katanya.
Cahyo menilai, dampak kekerasan tidak hanya berhenti pada proses hukum, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi korban. Karena itu, dia mendorong agar upaya pencegahan diperkuat melalui kolaborasi semua elemen di tingkat kampung.
“Baik akibat hukum maupun akibat yang akan dirasakan anak-anak ini harus menjadi pelajaran agar terbentuk kehidupan yang cinta dan peduli terhadap anak,” ucapnya.
Dia juga meminta ASN di kecamatan dan kelurahan bersinergi dengan tokoh masyarakat, ketua RW dan RT, Karang Taruna, serta tokoh perempuan. Program Kampung Pancasila, menurut dia, harus dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan nilai kepedulian sosial.
“Kalau Kampung Pancasila ini memang sudah berjalan, intinya harus memberikan kebermanfaatan. Hal seperti ini tidak boleh ada lagi di Kota Surabaya,” kata politisi muda ini.
Menurut dia, lingkungan yang aman dan inklusif bagi anak, perempuan, serta kelompok rentan harus menjadi prioritas. Dia berharap Dinas Sosial dan pihak terkait memberikan pendampingan rehabilitasi agar korban pulih secara mental, fisik, dan tumbuh kembangnya.
“Anak ini harus mendapat pendampingan agar bisa kembali pulih dan menjalani masa depannya dengan baik,” kata dia.
Dia juga mendorong penguatan edukasi pola asuh kepada masyarakat agar kekerasan dalam rumah tangga tidak terus terjadi. Cahyo berharap kasus balita 4 tahun di Surabaya menjadi pelajaran bersama untuk memperkuat sistem perlindungan anak di Jawa Timur.
“Tugas kita memastikan anak-anak aman bahkan sebelum kasus seperti ini muncul ke publik,” pungkasnya. [asg/ian]






