Surabaya (beritajatim.com) – Kampus di Surabaya bergerak membantu korban banjir bandang dan longsor di Sumatra. Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga (Unair), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menurunkan relawan, membuka layanan kesehatan, menyalurkan bantuan logistik, serta memberi keringanan biaya pendidikan bagi mahasiswa terdampak.
Unesa menggalang dana melalui donasi dan lelang barang sivitas akademika di Kampus Lidah Wetan, Senin (8/12/2025). Dari kegiatan itu terkumpul sekitar Rp148 juta. Barang lelang antara lain jersey bertanda tangan Shin Tae-yong, raket Leani Ratri Oktila, serta jersey Marselino Ferdinan dan Rachmat Irianto.
Wakil Rektor IV Unesa, Dwi Cahyo Kartiko mengatakan bantuan juga diberikan dalam bentuk keringanan UKT dan biaya hidup bagi mahasiswa asal wilayah terdampak.
“Bencana ini harus menjadi perhatian bersama. Kami membantu mahasiswa dan menyalurkan hasil donasi untuk korban di Sumatera,” katanya, dikutip Selasa (9/12/2025).
Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Unesa, Mutimmatul Faidah menyebut terdapat 458 mahasiswa asal Sumatra di Unesa, dengan 63 di antaranya berasal dari daerah terdampak langsung.
Mereka mendapatkan pendampingan psikologis, konseling, serta penguatan spiritual. Tim SMCC-PPIS Unesa dijadwalkan berangkat ke lokasi bencana pada 10 Desember 2025 untuk menyalurkan bantuan pokok, membuka layanan kesehatan, dan trauma healing di pengungsian.
Sementara itu, Unair memberangkatkan Tim Bencana beranggotakan sembilan tenaga kesehatan ke Aceh Tamiang pada 8 Desember 2025. Tim terdiri dari dokter umum, perawat gawat darurat, bidan, epidemiolog, serta peserta pendidikan dokter spesialis dari lintas fakultas dan rumah sakit.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, Siti Shofiya Novita Sari mengatakan tim membawa lebih dari 200 kilogram obat-obatan dan logistik kesehatan.
“Kami memprioritaskan anak-anak, ibu hamil, dan lansia agar mendapat layanan kesehatan dasar,” ujarnya. Tim diterjunkan dengan sistem layanan kesehatan mobile untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses selama 14 hari penugasan.
ITS juga mengirimkan Satgas Kemanusiaan serta menyiapkan kebijakan keringanan hingga pembebasan UKT bagi mahasiswa terdampak.
Dari pendataan, tercatat 139 mahasiswa ITS berasal dari wilayah terdampak di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Lima mahasiswa di antaranya mengalami dampak berat dan membutuhkan pendampingan khusus.
Rektor ITS, Bambang Pramujati mengatakan banyak keluarga mahasiswa kehilangan rumah dan mata pencaharian. “Kami ingin memastikan mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Bersama Yayasan Manarul Ilmi, IKA ITS, dan jejaring relawan, ITS menghimpun donasi sekitar Rp300 juta. Bantuan berupa 7 ton beras, minyak goreng, gula, mi instan, perlengkapan bayi dan perempuan, genset, lampu penerangan, 5 unit Starlink, serta 10.000 tablet vitamin. Penyaluran difokuskan ke wilayah Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah yang masih minim bantuan.
Satgas ITS diberangkatkan bertahap, diawali tim medis dan disusul tim teknis untuk instalasi air dan listrik. Alumni Arsitektur ITS juga menyiapkan desain hunian sementara bagi penyintas yang kehilangan tempat tinggal.
Gerak serentak tiga kampus ini menjadi bagian dari respons darurat bencana, mulai dari perlindungan mahasiswa terdampak, layanan kesehatan langsung di lapangan, hingga distribusi logistik bagi warga Sumatra. [ipl/but]






