Surabaya (beritajatim.com) – Kami mendatangi lokasi ARTSUBS beberapa jam sebelum pembukaan. Tepatnya 6 jam. Tidak heran, banyak karya masih terbungkus plastik. Bau cat dan tiner menyengat. Banyak karya belum diberi label identitas. Meski begitu, aura seni rupa kontemporer “Ways of Dreaming” telah kental terasa.
Langkah kami terhenti di depan karya Agung ‘Tato’ Suryanto berjudul ‘Lingga Bergema’. Sebuah karya seni instalasi. Menampilkan satu testis ukuran super besar dibanding testis manusia. Tergelantung dan bergoyang secara ritmis.
Sekeliling ruangan terpasang cermin. Melalui cermin, goyang ritmis testis bisa terlihat dari berbagai arah. Termasuk tubuh kami sendiri. Tubuh kami turut memantul dari berbagai cermin. Seakan bayangan tubuh kami menjadi bagian tidak terpisah dari karya seni Agung Tato. Kami menjadi terlibat dalam karya.
Goyang ritmis testis mengingatkan kami pada bandul jam. Waktu. Bersama waktu, kami bisa terhubung dengan masa silam sekaligus masa depan. Goyang ritmis testis juga mengingatkan kami pada gerakan tarian sufi. Berputar dan berputar secara teratur, ajek. Keajekan yang membuat waktu melebur. Menyatu antara masa silam, kekinian, masa depan. Membentuk keutuhan kosmologis. Lebur. Menyatu dalam transendensi.
Sayangnya kami datang beberapa jam sebelum pembukaan ARTSUBS. Mungkin pada saat pembukaan, karya Agung Tato tidak hanya mengeksplorasi gerakan ritmis. Tetapi juga eksplorasi bunyi serta bau. Sesuai judulnya ‘Lingga Bergema’ mungkin dimunculkan bunyi-bunyian yang mengarah pada gema. Juga testis jumbo yang seakan mengelupas bakal dilengkapi dengan bau anyir. Dengan eksplorasi bunyi dan bau, sensabilitas indra-indra kami bakal lebih tersentuh. Bukan sebatas karya visual.
Bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain di ARTSUBS, kami senantiasa disuguhi oleh karya seni non konvensional. Kami menjadi teringat pada Pasar Raya Dunia Fantasi, 37 tahun lalu, yakni 15 – 30 Juni 1987 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran para perupa muda seperti Harsono, Jim Supangkat, Siti Adiyati, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Priyanto, Wienardi, dan beberapa seniman non seni rupa.
Ketika itu, mereka menganggap seni rupa di Indonesia mengalami kebangkrutan akibat pemahaman yang sempit, yakni menganggap seni rupa hanya terfokus pada lukis, patung, dan grafis. Sebagai reaksi, mereka membuat pameran dengan eksplorasi ruang seperti keadaan pasar swalayan. Sebuah pameran yang didahului dengan riset dan pengumpulan data, serta inventarisasi karya seni yang dijajakan di jalanan. Hasil temuan benda yang bisa diidentifikasi sebagai budaya urban diduplikasi dalam ukuran besar.
Mungkin para seniman yang ditampilkan dalam ARTSUBS sengaja ingin melanjutkan gerakan seni rupa 37 tahun lalu tersebut. Tetapi mungkin juga tidak. Kami tidak tahu pasti.

Dalam rilis dari panitia, kami diinformasikan bahwa ARTSUB dimaksudkan untuk menyajikan pemetaan seni rupa kontemporer Indonesia dalam berbagai faset terkini. Berikut rilis dari panitia:
ARTSUBS digagas Rambat sebagai direktur utama (chief director) dengan dibantu tim kerja berpengalaman dan berwawasan. Yaitu, Asmudjo J. Irianto sebagai art director dan Nirwan Dewanto sebagai kurator, Army sebagai event manager, Hermawan Desmanto sebagai spatial director, dan Andi Rahmat sebagai visual director. Serta tiga Dewan Kehormatan yakni Aris Utama, Karlina Supelli, dan Cahaya Manthovani.
ARTSUB dibuka oleh dua tokoh Surabaya Sunarjo Sampoerna (kolektor dan pemilik Esa Art Center) dan Eri Cahyadi. Dalam sebulan penuh, ARTSUBS menghadirkan 200-an karya dari 150 lebih seniman rupa Indonesia yang menempati ruang pamer seluas total 3900 meter persegi di Pos Bloc.
Pilihan lokasi ini penuh pertimbangan. Pos Bloc sebelumnya adalah Kantor Pos Surabaya Sebuah bangunan historis yang pernah menjadi tempat bersekolah Presiden RI Ir. Soekarno di bangku Hoogere Burgerschool (HBS). Lokasinya di Jalan Kebon Rojo, Kel. Krembangan Selatan, Kec. Krembangan Selatan sangatlah strategis. Berada di kawasan Kota Lama Surabaya, salah satunya dekat Jembatan Merah yang berkaitan dengan sejarah Hari Pahlawan 10 November 1945.
Ways of Dreaming
ARTSUBS yang pertama kali digelar ini mengambil tema Ways of Dreaming. Menunjuk kepada aneka jalan mimpi atau banyak cara bermimpi dalam ikhtiar kita menyelenggarakan modernitas. Lebih khusus lagi, karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia adalah imajinasi sosial yang mengandung aspirasi dan fantasi tentang keterubahan berbagai segi kehidupan di Indonesia di masa sekarang maupun di masa depan.
Tentu di sini termasuk berbagai paradoks maupun segi kritis yang terkandung dalam kemajuan (progress) yang dikejar masyarakat kita. Seniman rupa, sambil menyelami situasi kesejarahan dan kekinian dengan cara masing-masing, selalu mencari jalan- jalan baru untuk memperlihatkan mimpi dan fantasi tersebut. Mereka mengungkap segi-segi lain dari apa yang kita sebut sebagai kemajuan dan modernitas.
Indonesia adalah negara besar -dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia- yang kaya dengan sumber daya alam dan warisan budaya serta kesenian tradisi, tapi negara-bangsa kita belum berperan penting dalam bidang ilmu dan teknologi.
Dalam hal ini, “Indonesia menjadi negara maju” adalah mimpi besar yang semoga segera terselenggara. Bangsa-bangsa maju di dunia ini, baik di Barat, Timur, Utara maupun Selatan, bisa terus mendorong diri ke depan karena memiliki daya kritis terhadap dirinya sendiri, self-criticism, yang sudah satu-menyatu dengan berbagai proyek kemajuan mereka.
Namun, self-criticism adalah sikap sangat langka di Indonesia. Ini yang membuat masyarakat kita terhalang untuk mencapai kemajuan yang semestinya. Seni rupa kontemporer dianggap penting di negara-negara maju tersebut karena dapat menjadi representasi dan refleksi kritis pada segenap persoalan manusia dan lingkungannya.
Baiklah kita tekankan lagi bahwa karya-karya seni rupa kontemporer, tak terkecuali di Indonesia, menyodorkan daya kritis, sekaligus daya mimpi, yang merangsang kesadaran dan imajinasi publik.
Demikianlah kontribusi sosial seni rupa kontemporer yang mesti kita semaikan dan tumbuhkan bersama. Dengan rencana yang berwawasan ke depan, ARTSUBS melebarkan jalan ke arah kontribusi sosial yang demikian.
Sebagaimana kita ketahui, seni rupa kontemporer mengandung dua komponen utama. Yaitu karya-karya seni itu sendiri yang berwujud material, misalnya lukisan, patung, instalasi, fotografi, dan seterusnya. Maupun kandungan-isinya, yaitu refleksi dan representasi akan berbagai masalah yang hidup di tengah masyarakat.
Sebagai anak kandung masyarakatnya, setiap seniman berkarya untuk memperkaya dan memperbaharui tinjauan kita atas berbagai kenyataan sosial. Namun demikian, kita akui bahwa seni rupa kontemporer Indonesia sebagai variabel sosial tersebut masih harus didorong untuk menjadi bagian organik dari kehidupan masyarakat kita.

Absennya ruang-ruang non-komersial yang bisa menghadirkan karya-karya seni bagi publik, misalnya museum seni rupa, di kota-kota besar kita menunjukkan hal itu. Dengan langkah yang saksama, ARTSUBS berhasrat mengisi kekosongan ini.
Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia yang hingga sekarang belum memiliki pameran besar berskala nasional. Sesungguhnya Surabaya memiliki sumber daya yang sangat besar untuk ikut mendekatkan seni rupa kontemporer ke tengah masyarakat—juga sebaliknya.
Kekayaan seni rupa kita sudah semestinya berjalan seiring dengan gaya hidup dan kebutuhan masyarakat yang kian cerdas dan bermartabat. Sudah jamak bahwa kota- kota besar di dunia ini mempunyai pameran besar seni rupa yang dibanggakan ke dunia luas, dan Surabaya juga seharusnya demikian.
Masyarakat Surabaya dan Jawa Timur layak membanggakan diri dengan pameran besar seni rupa yang mengusung perkembangan terkini dalam eksperimentasi budaya kontemporer kita. Kegiatan seni budaya, dalam hal ini pameran seni rupa kontemporer, sudah selayaknya bukan hanya memperindah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi pendorongnya.
Ini adalah kekosongan besar di Indonesia, yang sejauh ini hanya diisi, dengan segenap keterbatasan, oleh Yogyakarta, Jakarta, dan Bali Selatan. Maka, salah satu wujud dari Ways of Dreaming itu adalah menyelenggarakan pameran seni rupa tahunan berskala nasional yang terkurasi dengan baik, di Surabaya. ARTSUBS adalah bagian dari mimpi besar kita bersama.
Pemetaan Seni Rupa Kontemporer Indonesia
ARTSUBS yang diancangkan terselenggara ajeg setiap tahun ini semoga bisa dibanggakan sebagai pesaing bagi pameran-pameran besar sejenis di Jakarta dan Yogyakarta. Niscayalah Surabaya bisa menjadi salah satu situs terpenting pertumbuhan seni kontemporer Indonesia. Yaitu, untuk membarengi perannya sebagai satu sentra penting pertumbuhan ekonomi nasional.
ARTSUBS akan menjadi representasi, pemetaan, dari kerja seni rupa kontemporer Indonesia. Di sini, keragaman akan sangat menonjol. Baik dalam hal bentuk, medium, dan gagasan artistik. Dengan demikian, sesuai dengan kenyataan di medan seni rupa itu sendiri, seni lukis akan sangat dominan, sebab memang demikianlah proporsi praktiknya dibandingkan cabang-cabang seni rupa yang lain.
“Namun, kami menyadari bahwa jangkauan seni rupa kontemporer itu cukup luas, beraneka, dan berlapis-lapis. Maka medium, material dan objek yang kami pilih adalah bisa saja tak terbatas. Tapi yang diarahkan oleh si penggubah sebagai karya seni,” terang Nirwan.
Dengan demikian, medium yang lazimnya dalam seni rupa modern dianggap sebagai bukan-seni, misalnya sebagai kriya atau desain, termasuk di dalamnya, sejauh sudah melompat dari kefungsiannya. Penekanan pada medium dan bahan ini sangat ditekankan pada kurasi dan seleksi.
Yang pasti, seniman-seniman yang telah terpilih adalah mereka yang sudah punya reputasi tinggi (established), yang sedang tumbuh pesat (emerging) dan yang mulai meraih reputasi (emerging-established), maupun yang pendatang baru.
“Ramuan ini kami anggap penting untuk merangsang pertumbuhan seni rupa kita ke arah-arah yang baru. Para seniman itu berkarya di wilayah-wilayah yang ditengarai sangat giat dewasa ini, yaitu Bali, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Malang (dan beberapa kota di Jawa Timur), Yogyakarta, dan daerah-daerah lain,” tegas Nirwan.
Untuk memperkuat tema Ways of Dreaming, ARTSUBS yang didukung Pertamina sebagai pioneer partner dan ARTOTEL Wanderlust sebagai hotel partner dan sejumlah pendukung lainnya, mengancang beberapa lingkup-gelaran (platform) khusus dalam pameran yang menjadi bagian dari upaya pemetaan tersebut.

Beberapa lingkup-gelaran tersebut tersusun-terisi dengan karya-karya yang dipesan secara khusus. Adapun berbagai lingkup-gelaran tersebut yang dapat menjadi pusat- pusat perhatian tersebut adalah: (1) lanskap kontemporer; (2) pasca-tradisi dan pasca-orientalisme; (3) materialitas dan terobosan medium; (4) arus pop dan low brow; (5) objek dan kebendaan; (6) irisan arsitektur; (7) abstraksi dan selebihnya (8) kesosokan baru; (9) fotografi dan cetak grafis, (10) jangkauan ekologi; dan (11) kolektif seni.
Gelaran ARTSUBS akan meramu kiat-kiat yang diamalkan museum seni rupa, biennale, dan art fair. Rangkaian panel, tata cahaya dan tata rangka yang tepat sasaran pada ruang-ruang Pos Bloc yang sangat historis itu terpancang untuk mendukung suasana melihat dan menghayati—dan bermimpi bersama—karya-karya seni yang terpajang.
Tata pameran juga akan sangat memudahkan gerakan pengunjung (dengan berbagai pertimbangan keamanan, kelegaan, dan kenyamanan) yang sepadan dengan sebaran karya-karya di seluruh ruang pamer.
Acara Pendamping
ARTSUBS juga mengancang berbagai acara pendamping yang memperkuat pergelaran pameran. Yakni dengan empat sub-program yakni lokakarya (workshop), pentas wicara, tur pameran, dan diskusi publik. Dengan semua agenda itu, ARTSUBS akan menjadi ajang pertemuan para kolektor, pembawa gaya hidup, serta para pemerhati dan pengamat seni, mode, desain, dan berbagai tren mutakhir.
Di antaranya pada Minggu, 27 Oktober 2024 dengan diskusi publik tentang Kuratorial ARTSUBS bersama Asmudjo dan Nirwan. Pada Jumat, 1 November 2024 diskusi publik tentang Seni Rupa Kontemporer Jawa Timur bersama kurator Wahyudin dan Ayos Purwoaji. Selain memamerkan karya, salah seorang seniman ARTSUBS mengisi lokakarya seperti Anargard tentang stensil, pada Minggu, 27 Oktober.
Lokakarya juga diberikan oleh seniman Yogyakarta Eko Nugroho pada Sabtu, 2 November 2024. Eko turut dijadwalkan menjadi narasumber pentas wicara pada Jumat, 1 November 2024. Ada pula lokakarya batik bersama Agus Ismoyo, Nia Fliam, dan Desmon Ismoyo, pada Senin, 4 November 2024. Lokakarya keramik bersama Nuzurlis Koto, seniman keramik dari Surabaya, pada Sabtu, 23 November 2024.
Pentas wicara mengisi jadwal gelaran ARTSUBS pada Jumat, 22 Oktober 2024. Menghadirkan dua seniman fotografi ternaam Indonesia Oscar Matuloh dan Indra Leonardi. Diskusi publik bersama arsitek ternama Andra Matin yang juga seniman ARSTUBS -ditemani arsitek Surabaya Hidajat Endramukti- digelar pada Rabu, 20 November 2024. Beberapa kolektor terlibat juga dalam pentas wicara.

Tak kalah menariknya, ceramah publik bersama kurator ARTSUBS Nirwan. Salah seorang Dewan Kehormatan ARTSUBS, Karlina Supelli, seorang filsuf dan salah satu astronomer perempuan pertama dari Indonesia, akan bicara dalam ceramah publik. Keduanya digelar pada Sabtu, 23 November 2024. Tur galeri sebanyak 8 kali dalam sebulan akan mengajak berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, sosialita, disabilitas, arsitek, entrepreneur, dan kolektor.
Tentu saja, tak kalah pentingnya, ARTSUBS akan melibatkan publik luas, berbagai lapisan masyarakat, mereka yang menjunjung kreativitas dan inovasi, dan peduli pada perkembangan sosial. Termasuk pengguna aktif media sosial yang mengabarkan berbagai kegiatan seni budaya dan gaya hidup. Dengan tiket seharga Rp 100 ribu (untuk umum) dan Rp 50 ribu (untuk pelajar), ARTSUBS berniat merangkul 100 ribu pemirsa selama masa pameran.
Demikianlah, sama seperti yang lain, kami berharap ARTSUBS 2024 menjadi mimpi besar dan kerja besar bersama. [but]






