Malang (beritajatim.com) – Puluhan orang terlihat memadati pelataran Kafe Pustaka. Mereka saling mengenang momen dan berbagi kenangan selama mengunjungi Kafe Pustaka.
Puluhan orang tersebut berkumpul dengan alasan Kafe Pustaka yang berada di Universitas Negeri Malang (UM) berhenti beroperasi. Kafe yang terletak bergandengan dengan perpustakaan UM ini telah pamit terhitung sejak acara diadakannya pameran poster dan testimoni ke kenangan pada Senin (5/8/2024) di pelataran Kafe Pustaka.
David Ardianto selaku pengelola Kafe Pustaka menuturkan bahwa alasan penutupan kafe karena kontrak sudah habis. Lantas, pihak UM berencana melakukan renovasi.
“Bangunannya mau direnovasi, jadi apa saya ngga tahu. Ini adalah acara pamitan dengan tagar #KafePustakaPamit dengan judul kita buka dengan suka cita, kami pamit dengan bangga,” ungkap David, sapaanya.
#KafePustakaPamit menampilkan poster berbagai kegiatan yang pernah dilakukan di Kafe Pustaka. Ada juga testimoni kenangan dari pelanggan kafe, penampilan musik, dan pembacaan puisi.
“Ada testimoni dari teman-temen tentang Kafe Pustaka yang telah beroperasi selama 9 tahun. Sesuai tajuk pameran ini Kami bangga, karena visi misi kafe pustaka sudah berjalan dengan baik atas support dari kawan-kawan semua dari komunitas, pelanggan setia kafe pustaka dan semua pegiat literasi yang ada di seluruh Indonesia, jadi tidak hanya Malang,” lanjut David.
Dijelaskan pengelola Kafe Pustakani ini bahwa pihaknya belum mendapat tempat baru. Namun, ia akan segera merencanakan untuk memperoleh tempat kondusif yang bisa menjalankan visi misi kafe pustaka.
Salah satu testimoni datang dari Prof Djoko Saryono yang merupakan inisiator pendiri Kafe Pustaka. Menurutnya, Kafe Pustaka bukan hanya sekedar tempat nongkrong biasa, melainkan tempat untuk merawat literasi dan melakukan diskusi.
“Semoga lebih banyak yang tahu nilai dan fungsi Kafe Pustaka. Tempat ini adalah kafe akademik yang membangun visi misi membangun lingkungan epistemis dengan tagline sembari ngopi membangun literasi,” ungkap Dosen Bahasa Indonesia UM tersebut.
Deni Mizharuddin, satu pelanggan Kafe Pustaka yang memberi testimoni menilai bahwa tempat ini menjadi wadah gerakan literasi dan tempat menjalin diskusi. Kafe Pustaka punya andil besar dalam merawat komunitas kafe pustaka menjadi wadah kami. Kafe Pustaka adalah tempat untuk bertukar pikiran dan berdiskusi tentang topik literasi.

Hal senada disampaikan oleh Wawan Eko Yulianto, pengunjung yang memberi testimoni bahwa di Kafe Pustaka ia mengalami suatu hal yang yang belum dialami di tempat lain. Salah satunya adalah kafe dengan konsep santai untuk berbincang masalah literasi.
“Saya bertemu dengan orang yang tidak dipikirkan sebelumnya. Banyak sekali kenangan saya di sini. Saya berjumpa banyak orang di sini saya lebih banyak menghabiskan waktu bisa belajar bersama dengan kawan – kawan di sini. Hal seperti itu tidak bisa terjadi di tempat serius dengan tempat yang resmi. Saya ingin berbicara tentang nilai, di sini banyak poster yang merupakan nilai dari kafe pustaka ini,” ungkap Wakil Rektor Universitas Ma Chung tersebut.
Wartawan Tempo, Abdi Purmono juga memberi testimoninya. Kenangannya yang paling membekas baginya ketika diskusi tentang buku Oligarki.
“Tadi saya baca di Jakarta sering menulis kafe tematik, di Malang tambah kafe banyak, yang literasi malah mati satu persatu. Ini perlu dipikirkan. Penyebab gugurnya literasi ini mengapa? Kafe pustaka tewas. Mudah-mudahan muncul Kafe Pustaka Reborn,” jelas pria yang akrab disapa Abel tersebut.
#KafePustakaPamit setelah sekitar 9 tahun beroperasi. Kafe Pustaka pertama kali buka pada 27 Mei 2015. Ada ratusan poster kegiatan yang ditampilkan, ada penampilan musik Ben Lazuardi, Han Farhami, dan testimoni dari pelanggan Kafe Pustaka.
“Poster yang terpasang hanya separuh karena begitu banyak kegiatan di kafe pustaka ini ngga cukup kalau di pasang semua, saking banyaknya kegiatan yang pernah dilakukan di kafe pustaka,” jelas David Ardianto, pengelola kafe pustaka dengan nada tegar.[dan/aje]






