Malang (beritajatim.com) – Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, sebuah fenomena unik mencuri perhatian di berbagai sudut negeri.
Bukan hanya bendera Merah Putih yang mulai dipasang, melainkan juga bendera hitam bergambar tengkorak dengan topi jerami, simbol yang sangat dikenal oleh para penggemar anime dan manga One Piece.
Bendera yang dikenal sebagai “Jolly Roger” kru Bajak Laut Topi Jerami ini berkibar di rumah-rumah, terpasang di kendaraan, dan menjadi konten viral di media sosial.
Fenomena ini memantik beragam tafsir dan diskusi. Sebagian melihatnya sebagai ekspresi kreatif dan kecintaan pada budaya pop semata.
Namun, bagi yang lain, pengibaran simbol pemberontakan dalam cerita One Piece di momen sakral kenegaraan ini dianggap sebagai cerminan kegelisahan sosial yang lebih dalam. Apakah ini sekadar tren sesaat yang didorong oleh popularitas anime, atau sebuah bentuk kritik simbolik dari generasi muda terhadap kondisi bangsa?
Untuk membedah kompleksitas di baliknya, Dosen Sosiologi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abdus Salam, M.Si., memberikan analisisnya. Menurutnya, fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai kenakalan remaja atau tren ikut-ikutan belaka.
Untuk memahami mengapa bendera ini begitu resonan, penting untuk menyelami makna simbolisnya dalam semesta One Piece. Secara historis, Jolly Roger adalah bendera yang digunakan oleh para bajak laut di dunia nyata untuk mengintimidasi target mereka. Gambar tengkorak dan tulang bersilang menjadi peringatan universal akan bahaya.
Namun, dalam mahakarya Eiichiro Oda, makna Jolly Roger berkembang jauh melampaui citra kekerasan. Setiap kelompok bajak laut memiliki desain unik yang merepresentasikan identitas, nilai, dan mimpi kapten serta krunya.
Jolly Roger milik Monkey D. Luffy, sang protagonis, menampilkan tengkorak yang mengenakan topi jerami kesayangannya. Topi itu sendiri adalah simbol janji dan warisan tekad.
Situs web One Piece Fandom merangkum esensi bendera ini sebagai lambang kekuatan, kebebasan, tekad pribadi, dan solidaritas. Seperti yang diucapkan oleh karakter Dr. Hiluluk dalam cerita, “Bendera ini menolak segala ketidakmungkinan. Ini adalah simbol kepercayaan.”
Dalam banyak narasi One Piece, Jolly Roger menjadi panji perlawanan terhadap penindasan. Kru Bajak Laut Matahari (Sun Pirates), misalnya, menggunakan simbol matahari untuk menutupi tanda perbudakan yang dicap pada tubuh para anggotanya, mengubah simbol penderitaan menjadi lambang kebebasan.
Jolly Roger dalam konteks ini bukanlah tentang perompakan. Ia adalah tentang pembebasan diri dari kekuasaan yang sewenang-wenang dan korup, sebuah tema sentral yang diusung Eiichiro Oda selama lebih dari dua dekade.
Tokoh utama, Monkey D. Luffy, secara konsisten digambarkan sebagai sosok yang menentang Pemerintah Dunia (World Government) dan kaum Naga Langit (Celestial Dragons),.elit penguasa yang bertindak absolut dan tanpa keadilan.
Perjuangannya adalah untuk meraih kebebasan tertinggi, sebuah pesan yang menurut banyak penggemar, termasuk Riki, salah seorang penikmat serial ini, menjadi inti dari cerita. “Intinya adalah bebas dari penindasan,” ujarnya, Selasa (5/8/2027).
Abdus Salam, M.Si., melihat fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai sebuah ekspresi sosial yang kompleks. Menurutnya, tindakan ini bisa menjadi sinyal bahwa bagi sebagian generasi muda, bendera Merah Putih sebagai lambang negara terasa berjarak dari realitas kehidupan mereka.
“Anak muda tidak akan bangga dengan bendera Merah Putih sebagai lambang negara jika tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat,” jelas Salam. Ia menyoroti ironi di mana simbol kenegaraan dirayakan secara seremonial, sementara masalah-masalah substantif seperti tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana hingga doktor belum terselesaikan.
Bagi mereka, Merah Putih bisa jadi hanya terasa sebagai simbol formalitas yang tidak secara langsung berdampak pada perjuangan mereka mencari pekerjaan, mendapatkan penghidupan yang layak, atau merasakan keadilan. Dalam kekosongan makna ini, mereka mencari simbol alternatif yang lebih mewakili semangat dan aspirasi mereka.
Jolly Roger One Piece, dengan narasi kuat tentang perjuangan meraih mimpi dan melawan ketidakadilan, mengisi ruang tersebut.
“Biasanya, dalam konteks sosiologi, hal yang jadi trending topic dijadikan sebagai simbol. Mereka menggunakan simbol-simbol unik untuk mencuri perhatian, terutama di momen-momen penting seperti menjelang Hari Kemerdekaan,” tambah Salam.
Pelajaran dari Gus Dur: Bijaksana Menghadapi Ekspresi Simbolik
Lebih lanjut, Salam mengkritik respons berlebihan yang terkadang ditunjukkan oleh aparat atau pemerintah dalam menghadapi fenomena serupa di masa lalu. Ia menilai sikap yang menganggap pengibaran bendera alternatif sebagai tindakan makar atau pidana adalah sebuah “kegenitan yang dilakukan oleh elit negara.”
Ia menyarankan agar pemerintah bersikap lebih tenang dan tidak reaktif, selama tindakan tersebut tidak sampai mengganti atau merusak bendera Merah Putih. Untuk itu, Salam mengingatkan pada kearifan yang pernah ditunjukkan oleh Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ketika menghadapi isu pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua.
Alih-alih merespons dengan pendekatan keamanan yang kaku, Gus Dur dengan tenang menyatakan, “Ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.” Gus Dur memahami bahwa bagi masyarakat Papua, bendera tersebut memiliki nilai kultural yang mendalam, bukan semata-mata simbol politik separatisme.
Pendekatan serupa, menurut Salam, dapat diterapkan pada fenomena bendera One Piece. “Ini adalah ekspresi kultural dari generasi muda yang sedang mencari identitas dan cara baru untuk bersuara. Alih-alih melarang, fenomena ini sebaiknya dijadikan bahan diskusi dan refleksi diri bagi para pemangku kebijakan,” tegasnya.
Fenomena ini juga membuka diskursus tentang makna nasionalisme bagi generasi Z dan milenial. Salam berpendapat bahwa lembaga pendidikan dan keluarga dapat memanfaatkan momen ini untuk membahas konsep nasionalisme yang lebih relevan dan substansial.
“Nasionalisme tidak hanya soal upacara bendera atau menghafal nama pahlawan,” katanya. “Nasionalisme yang sejati tecermin dari bagaimana kita mengisi ruang-ruang kemerdekaan dengan tindakan positif.”
Bagi seorang pegawai, nasionalisme adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan menghindari korupsi. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, nasionalisme adalah belajar dengan tekun untuk membangun masa depan bangsa.
Tindakan-tindakan konkret inilah yang sesungguhnya menjadi bentuk penghargaan tertinggi terhadap jasa para pahlawan.
Di sisi lain, Salam juga tidak menampik adanya kemungkinan bahwa sebagian dari fenomena ini murni didorong oleh keinginan untuk viral di media sosial.
“Bisa saja, teman-teman itu ikut-ikutan karena ingin viral saja. Ingin agar konten yang dibuat banyak viewers-nya. Jadi saya rasa tidak semua ekspresi anak muda harus serta-merta dianggap sebagai perlawanan politik. Ada kalanya, hal itu hanya sekadar konten belaka,” ujarnya, mengingatkan untuk tidak melakukan generalisasi.
Berkibarnya Jolly Roger di tengah semarak menyambut HUT RI menjadi pengingat yang kuat. Ia adalah cermin multi-dimensi yang memantulkan popularitas budaya pop global, kreativitas anak muda, sekaligus potensi kegelisahan sosial. Alih-alih menjadi sumber kekhawatiran, fenomena ini seharusnya menjadi momentum bagi bangsa untuk bercermin: sudahkah kemerdekaan yang dirayakan setiap tahun benar-benar mewujud dalam bentuk kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya? (dan/ted)






