Surabaya (beritajatim.com) – Sengkarut sepak bola Indonesia membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sakit kepala. Puncaknya ketika FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Gelaran ini seharusnya dimulai pada Mei mendatang.
“Tapi yang urusan bola ini memang, pusing saya dua minggu ini gara-gara bola, pusing, betul,” kata Jokowi di Kantor DPP PAN Jakarta pada Minggu (2/4/2023) dilansir Antara.
Pencopotan status tuan rumah tersebut tak ubahnya kiamat untuk sepak bola nasional. Anak-anak muda yang tergabung di tim nasional (Timnas) U-20 Indonesia, kehilangan kesempatan untuk bermain di Piala Dunia, event paling bergengsi di dunia sepak bola.
“Karena apapun itu sudah, sulitnya sangat sulit sekali untuk bisa menjadi tuan rumah. Yang mengajukan bukan 1, 2, 3 negara, puluhan negara mengajukan. Kita juga ikut mengajukan. Lobi sana lobi sini menyampaikan apa kesiapan infrastruktur dan fasilitas fasilitas kita. Akhirnya terakhir tiga negara dan kita dipilih,” cerita Jokowi.
Indonesia juga merugi karena kehilangan kesempatan dari dunia, khususnya FIFA, untuk menjadi tuan rumah dari ajang bergengsi. Bukan tidak mungkin, kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah juga berdampak terhadap pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2036 mendatang.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/olahraga/jokowi-akhirnya-angkat-bicara-soal-timnas-israel-di-piala-dunia-u20/
Selain itu, dana besar yang sudah terlanjur dikeluarkan untuk renovasi stadion, kini terbuang sia-sia. Memang, ini bagus untuk pemilik atau pengelola stadion. Serta klub yang menggunakan stadion tersebut. Namun, amat disayangkan jika stadion yang sudah dipercantik, cuma dipakai di level nasional.
“Kita menyiapkan tiga tahun. Lapangannya dicek, diperbaiki. Dicek lagi, diperbaiki. Dicek lagi. Tidak semudah itu. Saat kita menandatangani country house guarantee, di situ sudah tercantum semuanya apa-apa yang harus kita komitmenkan dan kita tanda tangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah provinsi dan kota yang ditunjuk sebagai tempat penyelenggaraan juga menandatangani dokumen tersebut. Akan tetapi, semuanya menjadi sia-sia karena Piala Dunia U-20 2023 akhirnya batal digelar di Indonesia.
“Memang itu sudah menjadi kehendak Allah. Kita terima sebagai sebuah pembelajaran ke depan agar tidak terjadi lagi. Itu aja yang bisa kita ambil pelajaran dari urusan bola. Tapi aduh pusing. Pusing betul ngurusi bola itu. Pusing,” ungkapnya. (sya/ted)






