Yogyakarta(beritajatim.com)- Jogja Fashion Parade (JFP) 2026 kembali digelar sebagai salah satu ajang mode terbesar di Yogyakarta yang mempertemukan ratusan desainer dari berbagai daerah di Indonesia. Diselenggarakan oleh Asmat Pro bersama PRO Group dan Sleman City Hall, JFP 2026 menghadirkan total 159 desainer dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Sulawesi.
Pada hari pertama Jumat (6/2/2026) peragaan busana dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama yang dimulai pukul 14.00 WIB menampilkan karya dari Omah Jahit Fir X Shifra, Kayshilla, Sheenaraya, MRA, Muchos Studio by Muhammad Khoiruddin, Erga Fashion X Ayu Sekar Modeling School, Arsita Craft by Arsita Resmisari, serta DS Devi Santi.
Sementara itu, sesi kedua yang digelar pukul 19.00 WIB diisi oleh deretan nama ternama seperti Indah Darry X Lutsaf, Maximal by Atik Prasetya, Himma Style by Rizqi Himawati, Panipaniyourefit by Fany Brelli X Linnara Collection by Linna, Matahari Department Store, SRL Studioss by Serli, Insani Hijab by Dini Agustriani, hingga kolaborasi Net’s by Martin X Neswa Wear SMKN 1 Warureja. Selain itu tampil pula Andy Sugix X Alleana, Emkarin by Rini, BYZAHRA by Qolbiana Zahra Adeputri, Nenjaka by Heaven Tungga, Sogan Batik Rejodani, GoO Ninks by Nining Soewarto, LitaOne by Marlita Silvianti, serta Nissa Khoirina.
Creative Director JFP 2026, Nyudi Dwijo Susilo, mengungkapkan bahwa lebih dari 55 model profesional akan berkolaborasi dengan sekitar 600 model kids dan teen. Menurutnya, kehadiran generasi muda memberikan energi segar dan semangat baru di atas runway.
“Tak ketinggalan, kehadiran plus-size model dan mature model menjadi simbol kuat inklusivitas, menegaskan bahwa fashion adalah ruang bagi semua keindahan, tanpa batas usia maupun bentuk tubuh,” ujar Nyudi.
Mengusung tema besar “Vastra Prabha”, JFP 2026 memiliki visi menghadirkan busana kekinian yang selaras dengan tren global, namun tetap berpijak pada kekayaan budaya dan wastra Nusantara. Ajang ini menjadi ruang apresiasi bagi desainer, model, serta pelaku industri kreatif, sekaligus merayakan keberagaman tubuh dan usia sebagai wujud nyata inklusivitas dalam dunia mode.
Salah satu kolaborasi menarik datang dari desainer Martin bersama siswa SMKN 1 Warureja, Tegal. Mereka mengangkat tema warna hitam sebagai simbol kanvas kosong yang kemudian diisi dengan teknik batik ecoprint dan batik ciprat. Dari kolaborasi ini, lahir delapan karya busana yang memadukan kreativitas anak muda dengan sentuhan seni tradisional.
Martin berharap kolaborasi tersebut bisa menjadi pintu awal bagi lahirnya bibit-bibit desainer baru. “Harapannya, siswa tidak hanya membuat baju, tapi berani tampil di panggung profesional. Banyak dari mereka yang pertama kali ke Jogja, awalnya tidak percaya diri, tapi pulang membawa ilmu dan pengalaman berharga,” ujarnya.
JFP 2026 menegaskan posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat fashion kreatif di Indonesia, bahkan dunia. [aje]






