Setiap akhir pekan jalanan di kota selalu terlihat ramai. Penuh dengan orang-orang yang berolahraga lari. Banyak dari mereka yang mengenakan pakaian dan sepatu olahraga merek terkenal. Mereka juga terlihat menyumpal telinganya dengan earphone untuk mendengarkan lagu penyemangat. Di pergelangan tangan, melingkar smart watch dan botol minum keren di genggaman atau kantong saku outfit-nya.
Sesekali mereka berhenti berlari untuk mengabadikan momen dengan berswafoto atau berfoto bersama kawan-kawannya. Bagi mereka, foto-foto ini mungkin bagian paling penting dibanding tujuan sehat dari olahraga lari itu sendiri. Tujuannya untuk menunjukkan eksistensi diri dengan mengunggahnya di media sosial. Ini lah yang kemudian mengundang maraknya fotografer mengabadikan aktivitas lari. Para pelari bisa memiliki foto-foto mereka dengan membeli karya para fotografer tersebut melalui platform digital tertentu.
Namun, di balik kesan hidup sehat, semangat membara, wajah bahagia dan produktivitas tinggi, fenomena ini menyisakan pertanyaan. Apakah mereka berlari demi kesehatan atau kah sekadar mengikuti arus trend yang ditawarkan oleh industri kebugaran?
Lari atau joging seharusnya menjadi pilihan olahraga yang paling murah. Bisa dilakukan tanpa membutuhkan alat maupun tempat khusus. Lari juga mudah dilakukan tanpa harus mengerahkan personal tim. Tapi yang terjadi saat ini, lari menjadi jenis olahraga prestisius yang cukup bisa menguras isi dompet.
Bagaimana tidak, jika ditotal, segala atribut yang melekat pada tubuh pelari harganya bisa mencapai jutaan. Puluhan juta bahkan sampai ratusan juta rupiah. Mengenakan outfit branded, merek mahal yang sedang tren di masyarakat bisa menaikkan status sosial sang pelari. Lari yang awalnya adalah olahraga sederhana, menjadi olahraga elit.
Kapitalisme berhasil menangkap fenomena jogging menjadi industri yang seolah tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Untuk olahraga yang sedang jadi tren ini, kapitalisme berhasil menyajikan tehnologi baru untuk mendukung para penghobi lari. Mulai jam tangan pintar yang bisa menghitung langkah dan membaca kondisi tubuh, hingga berbagai aplikasi yang bisa melacak setiap aktivitas jogging.
Mereka menjual produk sekaligus makna hidup, sehingga lari dikultuskan menjadi simbol gaya hidup modern. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan teratur, disiplin akan dianggap produktif dan sukses. Sebaliknya, orang yang tidak mengikuti tren ini akan dianggap malas, jauh dari hidup sehat dan tidak mengikuti perkembangan zaman.
F. Budi Hardiman dalam bukunya Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern menyatakan bahwa manusia dianggap hidup di zaman modern ketika kekinian menjadi kesadarannya. Modernitas bukan hanya bicara tentang periode, namun juga berpijak pada sebuah kesadaran yang terkait dengan kebaruan.
Filsuf Jerman, Herbert Marcuse, dalam bukunya One Dimensional Man (1964) mendiskripsikan tentang masyarakat modern sebagai “manusia dalam satu dimensi”. Maksudnya, bahwa pada era kapitalisme industri, manusia sebagai individu kehilangan kemampuan berfikir kritis dan imajinatif. Seluruh aspek kehidupannya diarahkan oleh sistem kapitalisme modern. Budaya konsumsi membentuk manusia yang akhirnya hanya memikirkan kebutuhan lahiriah atau material dan mencari kepuasan instan.
Marcuse, yang merupakan salah satu tokoh Mazhab Frankfurt generasi pertama, menambahkan, teknologi dan media menjadi alat kontrol sosial dengan menumbuhkan nilai-nilai dominan. Tidak ada lagi perbedaan antara kebutuhan nyata (real needs) dan kebutuhan palsu (false needs). Sistem kapitalisme menciptakan False needs, agar tiap individu secara terus menerus mengonsumsi kemudian merasa puas dan menikmati dengan tunduk pada sistem yang sudah menindasnya.
Menurut Marcuse, kapitalisme tidak sekadar fokus pada sistem ekonomi tetapi juga mempengaruhi sistem kesadaran. Manusia hanya akan sibuk untuk mengikuti kebaruan yang diciptakan oleh sitem dengan dalih supaya tidak ketinggalan dan sama dengan tren saat ini. Tidak ada lagi pertanyaan “mengapa ini saya lakukan?” Kemampuan berfikir kritis telah hilang, karena sistem kapitalisme sudah membentuk cara berfikir, merasakan, bahkan cara memaknai kebahagiaan.
Semua harus disesuaikan dengan standar yang sudah ditetapkan oleh sistem industry. Hal ini juga yang bisa kita lihat dalam semua aspek kehidupan termasuk olahraga dan kesehatan. Jogging tidak lagi sebagai gerak tubuh supaya sehat, namun sudah menjadi bagian kontrol sosial yang tidak terlihat. Jogging telah membentuk perilaku dan kesadaran individu untuk selalu aktif, berjiwa kompetitif dan konsumtif.
Lari yang dulunya aktivitas murah meriah saat ini sudah punya kelas sosial. Running event seperti marathon, color run, atau charity run, dengan biaya registrasi yang beragam, dari puluhan sampai ratusan ribu, menentukan ajang bergengsinya. Hadirnya sponsor pada seragam yang eksklusif, membuat tubuh manusia menjadi papan iklan berbagai merek besar.
Kompas pernah menyajikan data mengenai perbandingan pendaftaran ajang-ajang lari di Asia, dari yang termahal hingga termurah. Termahal ada pada ajang Tokyo Marathon 2024 yang membuka harga untuk peserta domestik Rp 1.692.000 dan peserta internasional Rp 2.587.000. Sedangkan termurah ada pada penyelenggaraan Bangkok Marathon yaitu untuk peserta domestic Rp 280.000 dan peserta internasional Rp 566.000.
Tren lari semakin meningkat di seluruh dunia. Seiring dengan itu, lari pun beralih bentuk menjadi industri dan gaya hidup yang diminati oleh hampir semua kalangan. Saat ini aktivitas lari sudah dilekatkan pada citra kebahagiaan, kesuksesan dan status sosial.
Kapitalisme sudah membentuk “kebebasan semu” bahwa manusia seolah memiliki keleluasaan untuk memilih, padahal tidak. Ada pasar yang secara tidak langsung menentukan pilihan itu sendiri. Ketika aktivitas jogging dilakukan untuk kesehatan, sebenarnya yang dicari adalah kesehatan menurut definisi iklan, tren dan algoritma media sosial yang dibentuk oleh industri kapitalis.
Marcuse menyebutnya sebagai false satisfaction. Diciptakan kepuasan semu agar manusia merasa bahagia, namun sebenarnya dia terasing dalam kebahagiaan itu sendiri. Misalnya ketika seorang pelari sudah mencapai target berlari 10 kilometer, kemudian mengunggahnya di media sosial. Tujuannya untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Karena itu ia merasa puas dan berarti setelah mendapat banyak like dan comment.
Kepuasan tidak didapatkan dari pengalaman kesehatan biologis tubuhnya sendiri. Kepuasan ia dapatkan dari pengakuan sosial dan data digital. Maka akhirnya tubuh menjadi komoditas kapitalisme, harus kompetitif dan produktif. Bahkan saat ini lari seringnya terfokus pada angka dan jarak tempuh dengan medan yang unik supaya terekam jejaknya dalam aplikasi digital.
Hembusan angina, segarnya udara pagi, dan hijaunya dedaunan yang memanjakan mata, tidak lagi menjadi hal utama ketika lari sudah diintervensi oleh nilai-nilai pasar. Dalam bahasa Marcuse, manusia dalam satu dimensi, yaitu manusia yang diintegrasikan dalam sistem penindasan dengan perasaan bahagia, bagitu saja menikmati prosesnya dan tidak merasa tertindas.
Bersama Theodor Adorno dan Max Horkheimer, Herbert Marcuse mencoba mencari jalan keluar atas kebuntuan Marxisme Ortodoks yang gagal memprediksi kejatuhan kapitalisme. Dalam kondisi dunia modern yang terkungkung oleh industri kapitalisme, ia menawarkan solusi bagi manusia untuk keluar dari pembodohan dan serangan kebutuhan palsu. Jalan keluarnya, manusia perlu menumbuhkan kesadaran kritis. Tawaran lainnya, memperbaiki dehumanisasi yang dialami masyarakat bagi tiap individu.
Joging bukan sebuah masalah, dia bisa membuat tubuh menjadi sehat, segar, bahkan bisa menjadi ruang untuk kontemplasi manusia. Namun kewaspadaan harus terus dijaga ketika sistem kapitalisme dengan mudahnya mengendalikan semua aktivitas sosial manusia. Mungkin saatnya kita memaknai ulang tentang lari itu sendiri.
Lari tidak lagi tentang angka tapi tentang kesadaran tubuh, mengikuti nafas, langkah tanpa alat bantu. Joging tanpa musik, tanpa aplikasi dan publikasi mungkin bisa menjadi sebuah perlawanan kecil terhadap dunia yang penuh tuntutan. Dengan pemaknaan tersebut maka kesehatan yang dibutuhkan bisa jadi bukan sekadar tubuh yang bugar, namun juga bagaimana manusia mempunyai pikiran dan kesadaran yang merdeka.
*) Akhsaniyah Sonya, Mahasiswa S3 Ilmu Sosial, FISIP Universitas Airlangga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi, FIKOM Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






