Magetan (beritajatim.com) – Ratusan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menghadapi tekanan berat akibat anjloknya penyerapan telur di pasaran dan terus meningkatnya harga pakan ternak.
Kondisi yang berlangsung selama dua bulan terakhir itu membuat stok telur menumpuk di gudang, sementara biaya produksi terus membengkak hingga mengancam keberlangsungan usaha para peternak.
Pemandangan tumpukan telur terlihat di sejumlah gudang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Rabu (24/6/2026).
Telur yang biasanya langsung terserap pasar kini menumpuk karena minimnya pembeli. Para peternak mengaku kesulitan menjual hasil produksi mereka, meski kebutuhan pakan dan biaya operasional terus berjalan setiap hari.
Rata-rata telur yang tersimpan di gudang mencapai 1 hingga 2 ton. Jika dalam waktu sepekan tidak kunjung terjual, para peternak terpaksa melepas telur dengan harga murah untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat telur membusuk.
Harga jual telur yang sebelumnya berkisar Rp23.000 per kilogram kini harus diobral pada kisaran Rp18.500 hingga Rp20.000 per kilogram. Penurunan harga tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tergerus, bahkan banyak yang mengaku mulai mengalami kerugian.
Di sisi lain, harga pakan ternak justru mengalami kenaikan signifikan. Dalam dua bulan terakhir, harga pakan naik dari sekitar Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak berisi 50 kilogram. Kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi dengan harga jual dan penyerapan pasar membuat kondisi peternak semakin terjepit.
Agung Pambudi, salah seorang peternak ayam petelur di Magetan, menggambarkan situasi yang tengah dialami para pelaku usaha peternakan saat ini.
“Kondisi peternak hancur, telur menumpuk tak bisa keluar dan harga pakan terus naik,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan peternak lainnya, Yudi Santoso. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini merupakan salah satu periode terberat yang pernah dialami para peternak.
“Kondisi peternak di Magetan sangat memprihatikan sekali, harga pakan terus naik, telur tak bisa keluar, tak laku dijual, telur sampai diobral,” katanya.
Krisis yang melanda peternak ayam petelur di Magetan bukan persoalan kecil. Berdasarkan data yang dihimpun dari pelaku usaha peternakan, terdapat sekitar 600 peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan dengan populasi ayam mencapai 1,6 juta ekor. Sebagian besar menghadapi persoalan yang sama, yakni sulitnya memasarkan telur di tengah lesunya permintaan pasar.
Perwakilan Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia, Teguh Wahyudi, menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu kebangkrutan massal jika tidak segera mendapatkan solusi.
“Para peternak di Magetan terancam bangkrut, harga pakan terus naik, telur tak bisa keluar, ada 600 peternak di Magetan,” tegasnya.
Dampak lesunya pasar juga dirasakan para pedagang telur. Sejumlah pedagang di Pasar Sayur Magetan mengaku penjualan menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya sekitar 15 kilogram telur dapat habis terjual dalam satu hari, kini jumlah yang sama bisa membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk terjual habis.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perlambatan daya serap pasar yang berdampak langsung pada rantai distribusi telur, mulai dari peternak hingga pedagang. Apabila situasi terus berlanjut, bukan hanya usaha peternakan yang terdampak, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan telur dan perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor peternakan.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui program penyerapan telur maupun upaya menekan harga pakan yang terus melambung. Intervensi tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat sekaligus melindungi salah satu sektor pangan strategis di Kabupaten Magetan.
Hingga saat ini, para peternak masih bertahan sembari menunggu adanya solusi dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait. Mereka berharap kondisi pasar segera membaik agar distribusi telur kembali normal dan usaha peternakan rakyat dapat terus berjalan tanpa ancaman kebangkrutan massal. [fiq/ted]






