Jember (beritajatim.com) – Jember Fashion Carnaval akan kembali digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, 6-7 Agustus 2022. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang digelar di ball room sebuah hotel, kali ini JFC kembali ke ‘habitatnya’, yakni jalan raya sepanjang 3,6 kilometer.
Tahun ini JFC memasuki dekade kedua. Selama 20 tahun, tak pernah sekalipun pelaksanaan karnaval fesyen jalanan itu terhenti kecuali pada 2020 karena pandemi. Tema besar yang diambil kali ini adalah Legacy. “Ini bagian dari rencana jangka panjang JFC,” kata Direktur Event JFC David Susilo, ditulis Jumat (5/8/2022).
Setiap dekade, menurut David, ada tema penghubung. “The Legacy artinya warisan. Bagaimana kita menerima sebuah warisan peninggalan dari almarhum JFC founder Mas Dynand Faryz, yakni lebih menguatkan dan mendekatkan JFC dengan kearifan lokal di Jember,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”JFC”]
“Yang membedakan dengan tahun kemarin, kami mengakomodasi kearifan lokal Kabupaten Jember. Tahun ini kami mengangkat seni hadrah, kami festivalkan dengan tema The Hadra Rythm Carnaval. Jika selama ini hadrah tidak berparade, maka dalam JFC kali ini hadrah menjadi festival dan parade dikombinasikan dengan moslem fashion,” kata David. Hadrah ini akan jadi rangkaian dengan parade utama.
JFC akan menampilkan satu defile hadrah yang terdiri atas 50 orang talenta. David berharap langkah JFC ini bisa diikuti kelompok-kelompok hadrah di desa-desa.
David ingin busana dan musik Islami bisa menjadi satu kesatuan utuh dengan parade. “Begitu juga seni lainnya. Kalau dulu kami belum mengangkat tari-tarian yang memiliki kekhasan. Sekarang tarian Sadeng kami angkat sebagai opening, sebagai penguat bahwa di Jember banyak tarian yang berangkat dari pedesaan yang coba kami festivalkan. Jadi tahun ini kami mencoba perpaduan karakteristik kearifan lokal dan kekuatan seni kontemporer,” katanya.
David berharap, setelah ada dalam JFC, hadrah tahun depan memiliki even tersendiri. “Ke depan, ketika tema ini jadi penghubung, seni festival hadrah dan tarian Jember akan menjadi parade tersendiri di JFC. Jadi even JFC akan menggambarkan kekuatan lokal di Jember,” katanya.
Bagaimana memilih unsur lokal Jember yang bisa sesuai dengan JFC? “Kami mencoba memetakan lokalitas. Lokalitas itu tidak mengubah konten utama JFC. Tapi bagaimana konten utama dikuatkan dan dilengkapi dengan support content,” kata David.
“Contoh: kenapa tahun ini kami mengangkat hadra. Kami tidak mengubah apa yang dinyanyikan hadra. Tapi kami lebih mengarahkan performa dan busana agar layak dilihat dan memiliki kekuatan tersendiri dari sisi style dan performa koreo konten hadrah itu sendiri,” kata David.
JFC tidak akan mengubah kostum hadrah secara radikal. “Tidak akan pernah sama dengan JFC yang pernah kita lihat. Kostumnya tetap kostum hadrah, cuma kami mofidikasi tanpa mengubah norma yang ada. Kami improvisasi agar dari sisi (kepentingan foto dan gambar gerak) media dan fashionable-nya layak,” kata David.
Total untuk karnaval pada 6 Agustus 2022, ada 375 orang peserta defile yang terbagi dalam dua kegiatan. Kegiatan pertama adalah WACI (Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia) yang diikuti perwakilan dari tujuh provinsi, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur.
Berikutnya adalah The Hadra Rythm Carnaval sebagai pembuka acara moslem fashion dan batik lokal. JFC mengajak desainer fesyen lokal Jember untuk berkolaborasi dan berekspresi. “Penutupanya adalah wedding carnival. Konsepnya adalah wedding dari sisi parade,” kata David.
Sementara untuk karnaval pada 7 Agustus 2022, akan diawali karnaval anak-anak. “Malamnya adalah karnaval utama (grand carnaval) yang terdiri atas 10 defile yang masing-masing diikuti 50 orang peserta,” kata David. [wir/kun]






