Ponorogo (beritajatim.com) – Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Nasdem Sri Wahyuni meninjau pembangunan jembatan gantung di Kelurahan Cokromenggalan, Ponorogo.
Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Cekok, Kecamatan Babadan dengan Kelurahan Cokromenggalan dibangun atas warga yang disampaikan Sri Wahyuni kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kebetulan di Kementerian PUPR ada program pembangunan jembatan gantung. Ponorogo juga menjadi lokasi dari realisasi program tersebut.
“Latar belakangnya, ya, karena tidak ada jembatan. Masyarakat mengusulkan dan saya bawa ke Kementerian,” kata Yuni, Sabtu (29/10/2022).
Setelah usulan tersebut dia sampaikan, Kementerian PUPR langsung melakukan survei di lokasi yang akan dibangun jembatan gantung. Hasil survei menyatakan lokasi telah memenuhi syarat untuk pembangunan jembatan gantung.
“Disurvei sudah memenuhi syarat, ya ini sudah mulai dilakukan pengerjaan pembuatan jembatan gantung,” ungkapnya.
Selama ini, Yuni mengaku konsisten menyuarakan perbaikan infrastruktur untuk pembangunan jembatan gantung kepada Pemerintah Pusat. Terbukti sejak 2020 lalu, dia selalu mengusulkan dan mengawal program pembuatan jembatan gantung dapilnya, yakni Dapil Jatim IIV.
Pada 2020 dibangun jembatan gantung di Desa Glinggang Kecamatan Sampun. Saat 2021 di Desa Kapuran Kecamatan Badegan dan tahun ini di Kelurahan Cokromenggalan yang masih tahap pengerjaan.
“Tahun 2023 nanti rencananya juga kita usulkan untuk jembatan di Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Ponorogo”]
Jika jembatan ini sudah jadi, Yuni berharap masyarakat bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, perjalanan penduduk dari Desa Cekok ke Kelurahan Cokromenggalan maupun sebaliknya bisa ditempuh lebih cepat.
“Dengan adanya jembatan ini, saya harap warga dimudahkan dan lancarkan urusan dan perekonomian warga bisa meningkat,” pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan Kementerian PUPR, Surya Adiguna bercerita, progres pembangunan jembatan gantung ini baru 33 persen. Dia meminta doa dari masyarakat supaya pekerjaan ini lancar dan selesai sesuai target yang sudah ditetapkan yakni 31 Desember 2022.
Panjang jembatan gantung ini 42 meter, dengan lebar kurang lebih sekitar 3 meter. “Hambatan yang berarti tidak ada sih. Minta doanya semoga cuacanya selalu mendukung dan bisa rampung sesuai target,” ungkapnya.
Salah satu warga setempat, Ningrum antusias dengan pembangunan jembatan gantung ini. Sebab, jembatan gantung ini mempermudah perjalanan ke Kelurahan Cokromenggalan.
Selama ini, dia harus memutar jauh jika hendak ke Kelurahan Cokromenggalan dari rumahnya di Perumahan Kertosari.
“Almarhum Bapak saya dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) di Cokromenggalan. Kalau sudah jadi, pasti jaraknya akan dekat, tidak seperti dulu harus muter,” pungkasnya. [end/beq]






