RINGKASAN BERITA:
- Jemaah haji asal Sulawesi Selatan tampil nyentrik dengan busana muslimah warna-warni khas Timur Tengah di Bandara Jeddah.
- Menteri Haji dan Umrah RI menilai fenomena menyerupai peragaan busana tersebut sebagai kearifan lokal yang menghibur.
- Berbelanja abaya dan gamis khas Arab Saudi menjadi tradisi ekspresi kegembiraan jemaah pasca-menyelesaikan ibadah.
- Menhaj mengingatkan jemaah agar penampilan modis tersebut tetap menjaga kesederhanaan dan koridor syariat.
Jeddah (beritajatim.com) – Rombongan jemaah haji asal Sulawesi Selatan kembali mencuri perhatian publik di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, akibat penampilan eksentrik mereka yang mengenakan busana muslimah warna-warni dengan sentuhan khas Timur Tengah.
Fenomena unik menyerupai peragaan busana (fashion show) massal di terminal keberangkatan ini memicu kekaguman dari para petugas bandara serta jemaah antarnegara yang tengah bersiap melakukan mobilisasi pemulangan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa pemandangan mencolok tersebut dinilai sebagai bentuk kearifan lokal yang merefleksikan kegembiraan spiritual.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, secara terbuka memberikan lampu hijau dan memandang positif ekspresi budaya yang melekat kuat pada masyarakat Bugis-Makassar tersebut.
“Memang ini salah satu ciri khas dari jemaah Sulawesi Selatan dan ini adalah tradisi. Yang penting tidak keluar dari syariah, tidak masalah. Justru jadi hiburan tersendiri,” ujar menteri yang akrab disapa Gus Irfan tersebut saat memantau langsung pelepasan kloter UPG-07 di Bandara Jeddah.
Fenomena yang berulang hampir di setiap akhir musim haji ini memperlihatkan barisan jemaah wanita melangkah beriringan dengan pakaian yang serasi dan mencolok. Di balik rasa percaya diri yang tinggi tersebut, mereka tetap memegang teguh kesantunan berpakaian sesuai dengan adab dan kehormatan seorang hajjah yang baru menyelesaikan rukun Islam kelima.
Bagi jemaah yang berasal dari wilayah Bone, Makassar, dan kabupaten lain di Sulawesi Selatan, berburu pakaian khas di pasar-pasar lokal Arab Saudi sudah menjadi paket pengalaman spiritual yang tidak terpisahkan.
Memanfaatkan waktu luang pasca-Armuzna atau saat agenda city tour, jemaah berbondong-bondong memborong abaya, gamis premium, hingga kain khas untuk oleh-oleh.
Uniknya, pakaian-pakaian baru berkarakteristik glamor tersebut sengaja tidak dimasukkan ke dalam koper bagasi, melainkan langsung dipakai bersamaan saat hari H kepulangan. Keseragaman busana dalam satu kelompok terbang inilah yang memicu efek visual unik di area steril kepabeanan bandara.
Selain sebagai media penyampai kabar bahagia kepada sanak saudara di tanah air, tradisi berbusana ini menjadi simbol bahwa jemaah sukses membawa pulang kenangan estetis dari Tanah Suci.
Pilihan fesyen yang ekspresif tersebut dianggap mampu mengeliminasi ketegangan psikologis jemaah selama menunggu antrean manifes pesawat di bandara.
Kendati memberikan apresiasi terhadap keberagaman budaya nusantara, Menhaj mengingatkan esensi fundamental yang wajib dijaga oleh para jemaah. Sisi kemewahan pakaian diharapkan tidak melunturkan nilai kesederhanaan batiniah yang didapat selama berwukuf di Arafah.
Gus Irfan menegaskan bahwa koridor utama yang tidak boleh dilanggar adalah aspek kepatuhan syariat Islam, di mana pakaian wajib menutup aurat secara sempurna dan tidak berlebihan (tabarruj).
Selama batas-batas normatif tersebut dikawal dengan baik oleh pimpinan kloter, Kemenhaj RI menilai tradisi berbusana mencolok ini sebagai kekayaan kultural yang patut dihormati di panggung perhajian dunia. [ian/MCH]






