Ringkasan Berita:
- Jemaah haji Banyuwangi yang meninggal di Tanah Suci bertambah menjadi empat orang.
- Syuwandi (78), jemaah Kloter 84 asal Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, wafat di King Faisal Hospital, Makkah.
- Almarhum meninggal akibat serangan jantung akut (STEMI) yang berkembang menjadi syok kardiogenik.
- Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat 401 dari 1.317 jemaah haji masuk kategori risiko tinggi.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Memasuki momen kepulangan para jemaah haji, kabar duka kembali datang dari rombongan jemaah haji asal Banyuwangi. Seorang jemaah haji bernama Syuwandi bin Saji (78), warga Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, yang tergabung dalam Kloter 84, dilaporkan meninggal dunia di King Faisal Hospital, Makkah, pada Minggu (7/6/2026) pukul 23.55 Waktu Arab Saudi (WAS).
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, mengungkapkan berdasarkan laporan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), kondisi kesehatan almarhum mulai menurun sejak 5 Juni 2026. Saat itu, Syuwandi mengalami badan lemas, penurunan nafsu makan, serta tekanan darah yang sangat rendah.
Hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan almarhum mengalami ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI), yakni serangan jantung akut akibat sumbatan pada pembuluh darah koroner.
“Tim medis telah memberikan terapi trombolitik dan perawatan intensif di ruang ICU untuk menangani kondisi tersebut,” ujarnya.
Namun demikian, kondisi kesehatan pasien terus memburuk hingga berkembang menjadi syok kardiogenik, yakni kondisi ketika jantung gagal memompa darah secara efektif sehingga tekanan darah turun drastis dan organ-organ tubuh tidak memperoleh aliran darah yang cukup. Meski telah mendapatkan penanganan optimal dari tim medis, Syuwandi akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 7 Juni 2026 pukul 23.55 WAS.
Amir menjelaskan, kasus tersebut kembali menegaskan bahwa penyakit jantung dan gangguan pernapasan masih menjadi penyebab utama masalah kesehatan yang dialami jemaah lanjut usia maupun kelompok risiko tinggi selama pelaksanaan ibadah haji.
Hingga 8 Juni 2026, dari total 1.317 jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 82 hingga Kloter 85, tercatat sebanyak 401 jemaah masuk kategori risiko tinggi atau sekitar 30,4 persen. Seluruh jemaah dalam kelompok tersebut terus mendapatkan pemantauan kesehatan secara intensif dari petugas.
Dengan bertambahnya satu jemaah yang wafat, jumlah jemaah haji asal Banyuwangi yang meninggal dunia di Tanah Suci hingga saat ini mencapai empat orang.
Selain itu, sejumlah jemaah Banyuwangi lainnya juga sempat menjalani perawatan dan mendapatkan rujukan ke rumah sakit di Arab Saudi akibat berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dehidrasi, hingga kelelahan fisik setelah menjalani rangkaian ibadah Armuzna.
“Meski demikian, secara umum kondisi kesehatan jemaah haji Banyuwangi masih terkendali. Sebagian besar jemaah tetap dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), serta petugas kloter untuk memastikan pemantauan kesehatan jemaah, terutama kelompok lanjut usia dan risiko tinggi, berjalan secara optimal hingga seluruh jemaah kembali ke Indonesia.
Data Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat empat jemaah haji asal Banyuwangi yang meninggal dunia selama penyelenggaraan ibadah haji 2026. Mereka adalah Patonah binti Mat Yasir (71), warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kloter 82, yang wafat pada 28 Mei 2026 di RS Mina akibat Acute Respiratory Failure atau gagal napas akut.
Jemaah kedua, H. Bilal bin Sangidun (85), warga Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kloter 83, meninggal pada 3 Juni 2026 setelah mengalami sesak napas dan penurunan saturasi oksigen berat. Diagnosis medis menunjukkan penyebab kematian berupa aspirasi yang memicu gangguan pernapasan berat hingga henti jantung.
Jemaah ketiga, H. Soejadi bin Mertokadiyo (85), warga Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, Kloter 84, wafat pada 5 Juni 2026 setelah mengalami pneumonia disertai Acute Coronary Syndrome (ACS) atau serangan jantung akut pasca menjalani rangkaian ibadah Armuzna.
Sedangkan jemaah keempat adalah Syuwandi bin Saji (78), warga Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Kloter 84, yang meninggal pada 7 Juni 2026 di King Faisal Hospital akibat STEMI yang berkembang menjadi syok kardiogenik. [alr/beq]






