Menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah paling lama, KH Abdur Rozaq (AR) Fakhruddin menggantikan posisi KH Faqih Usman, seorang ulama komunitas Islam Modernis yang paling pendek masa kepemimpinannya.
Kiai Faqih tak sampai setahun memegang jabatan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ulama asal Kabupaten Gresik yang lama aktif di Partai Masyumi ini meninggal dunia beberapa bulan setelah terpilih di forum muktamar ormas Islam Modernis tersebut.
Kiai AR Fakhruddin, yang akrab dipanggil Pak AR, memegang jabatan ketua umum PP Muhammadiyah di sepanjang era Orde Baru Soeharto. Sejak awal Jenderal Soeharto dipilih dan ditetapkan MPRS sebagai Presiden RI menggantikan Soekarno (Bung Karno). Mulai tahun 1968 sampai 1990, jabatan orang pertama di PP Muhammadiyah digenggam Pak AR. Pembawaannya yang tenang, moderat, tutur katanya halus, dalam berdakwah dilakukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah, pelan-pelan, dan penuh dengan kehati-hatian. Itulah sederet jiwa dan karakter kepemimpinan Pak AR.
Dalam buku yang ditulis Haydar Musyafa (2020), disebutkan bahwa Pak AR tak pernah berdebat dalam berdakwah. Model dakwah yang diterapkan bersifat enteng-entengan. Pak AR biasa mengajak kelompok sasaran dakwahnya dengan wedangan, makan gorengan atau bakmi kuah. Kondisi santai itu dipakai untuk bertukar pikiran tentang berbagai hal terkait keagamaan yang belum menemukan titik temu.
“Pak AR tak pernah menempatkan dirinya sebagai guru dan memandang jamaah sebagai murid. Pak AR tak sekalipun berjarak dengan jamaahnya,” tulis Haydar Musyafa (2020).
Jejak Pak AR selama memimpin Muhammadiyah selain dikenal dan dikenang sebagai leader yang moderat, sederhana dengan penguasaan terhadap ilmu agama yang luas dan mendalam. Di bawah kepemimpinan Pak AR, Muhammadiyah mampu membangun relasi baik dengan Soeharto, penguasa Orde Baru.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ainur-rohim”]
Kedua tokoh ini sama-sama berasal dari Yogyakarta. Konstruksi relasi Muhammadiyah dan pemerintah Orde Baru di era kepemimpinan Pak AR tak mungkin dilepaskan dari latar relasi personal Pak AR dengan Soeharto. Pak AR paham dengan latar sosiologis dan kultural tersebut. Sehingga selama memimpin Muhammadiyah dan membangun relasi dengan Soeharto, Pak AR memakai pendekatan budaya Jawa.
“Soeharto itu sangat kuat memegang budaya Jawa dan sangat mengerti paugeran Jawa. Karena itu, untuk membangun dan menjalin hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah, Pak AR mendekati Pak Harto melalui budaya Jawa,” kata Sukriyanto di buku biografi tentang Pak AR.
Haydar Musyafa menulis bahwa Pak AR memiliki kemampuan sangat baik dalam menerjemahkan unggah-ungguh dan filosofi Jawa yang rumit dalam kehidupan sehari-hari. Pak AR pernah menyatakan bahwa Pak Harto adalah seorang muslim yang baik, saat santer kabar jika Pak Harto sangat anti dengan Islam. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa Pak Harto akan menghancurkan Islam, di mana puncaknya terjadi ketika muncul kebijakan penerapan asas tunggal Pancasila.
Mengapa Pak Harto bisa menerima dan bersahabat baik dengan Pak AR? Karena Pak Harto tahu jika Pak AR adalah orang yang jujur, sederhana, sumeleh, dan tak pernah memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi.
Bahkan, saking jujurnya, Pak AR adalah orang pertama di PP Muhammadiyah yang tak memiliki kendaraan (mobil) pribadi. Ke mana-mana yang dipakai sebagai kendaraan adalah motor tua miliknya sendiri, yang kadangkala mogok akibat usianya makin menua dan onderdilnya banyak yang rusak.
Kesederhaan, istiqomah, dan watak kerakyatannya yang tinggi membuat Pak AR mendapat tempat di hati warga Muhammadiyah. Tak heran Pak AR diberi kepercayaan selama 22 tahun memegang jabatan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Kehidupannya menyatu dengan ormas Islam Modernis yang didirikan KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 Nopember 1912 ini.
Pernah salam satu kesempatan, seorang petinggi Perguruan Taman Siswa bertanya kepada Pak AR: Mengapa Muhammadiyah lestari dan maju pesat, sedang Taman Siswa mundur. Padahal, kedua organisasi ini sama-sama ada dan mulai bergerak di era perjuangan dan kemerdekaan? Dengan nada enteng Pak AR menjawab: Tujuan Taman Siswa adalah mencapai kemerdekaan Indonesia, sedang Muhammadiyah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Sekarang ini sudah merdeka, sehingga tujuan Taman Siswa sudah tercapai, sedang amar ma’ruf nahi munkar tidak pernah selesai.
Sepeninggal KH AR Fakhruddin, puncak kepemimpinan ormas Islam Modernis dipercayakan kepada KH Azhar Basyir, seorang santri asal Kauman Yogyakarta, anak seorang ulama terkemuka bernama KH Basyir yang pernah nyantri KH Hasyim Asyari di Pondok Tebuireng Jombang.
Tak lama Kiai Azhar nyantri di Pondok Termas, karena seiring kedatangan penjajah Jepang dia diminta kembali ke Yogyakarta oleh Kiai Basyir. Pascaperang kemerdekaan, Kiai Azhar punya kesempatan bersekolah di sebuah universitas di Baghdad Irak. Tak lama berkuliah di Irak, Kiai Azhar melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir dan masuk di Fakultas Darul Ulum.
Dengan penguasaan ilmu agama dan ilmu lainnya yang paripurna, sekembali dari Mesir, Kiai Azhar berkesempatan mengajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan aktif di Muhamamdiyah. Di organisasi Islam Modernis ini, Kiai Azhar dipercaya sebagai Ketua Majelis Tarjih, sebuah jabatan dan posisi penting di organisasi Muhammadiyah yang berhubungan dengan putusan hukum berdasarkan Metode Tarjih.
Muhammad Hisyam (2003) menulis bahwa metode tarjih dalam prakteknya menentukan hukum atas masalah-masalah kontemporer yang muncul di masyarakat dengan cara meneliti pendapat-pendapat ulama yang telah ada dalam semua mazhab, lalu mengambil keputusan berdasarkan pendapat yang paling dekat dengan Al Quran dan Al Hadits.
Bagi Muhammadiyah yang sejak awal menekankan pembaruan keagamaan, Majelis Tarjih menempati posisi sangat sentral dalam memberantas praktek bermazhab dan membebaskan cara berpikir terikat menuju pola berpikir merdeka. Majelis Tarjih adalah instrumen tajdid dalam Muhammadiyah.
Secara praksis, pandangan Kiai Azhar dalam soal fiqih terkesan konservatif. Karena itu, banyak kalangan meragukan kemampuannya dalam memimpin Muhammadiyah setelah dia terpilih dalam muktamar ke-42 Muhammadiyah di Kota Yogyakarta.
“Muhammadiyah di bawah Pak Azhar adalah kelanjutan Pak AR yang teduh ditambah kesediaan bekerja sama dengan pihak lain demi kemaslahatan umat. Pak Azhar adalah tipe orang yang teguh dalam akidah, sejuk, dan istiqomah. Di bawah kepemimpinan Pak Azhar, Muhammadiyah tetap teduh, bahkan ukhuwahnya dengan ormas Islam lain meningkat,” komentar Amien Rais sebagaimana ditulis Muhammad Hisyam (2003). [air/bersambung]






