Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-48, Sekretaris PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah membahas soal isu Pemilu 2024.
Dia mengungkapkan, pemilu yang terdahulu belum menunjukkan perilaku yang berkeadaban dan demokrasi berkualitas. Ia menilai, fenomena politik pragmatis dan politik uang yang sangat memprihatinkan. Selain itu, oligarki politik dan orientasi kekuasaan yang sangat kuat membuat segala cara ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan tersebut.
Lebih dari itu, Tri mengaku prihatin dengan menguatnya politik identitas yang masih berlanjut pasca-pemilu sehingga mengganggu kehidupan kebangsaan yang damai dan kolaboratif.
Menurutnya, Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan keragaman suku, ras, agama, golongan, dan budaya memerlukan sistem pemilu dan perilaku politik yang memperkuat persatuan dan menjunjung perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara.
“Bukan sebaliknya, pemilu yang menyisakan permasalahan yang membawa perpecahan sosial, sikap masyarakat yang pragmatis dengan politik uang, saling menyerang antar pendukung di media sosial, permainan hasil suara dan lain-lain,” ungkap Tri yang dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Kamis (3/11/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemilu”]
Terkait wacana pencalonan jelang pemilu 2024, Tri berpesan agar tidak membuat gaduh dan menimbulkan perpecahan yang dapat menjadi embrio kemunculan kembali politik identitas.
Dosen Ilmu Komunikasi UMY ini berharap, wacana yang muncul dan diperbincangkan justru terkait dengan isu-isu maupun problem sosial ekonomi yang dihadapi bangsa ini dan harus dicarikan jalan keluar.
Lebih dari itu, Tri juga mengingatkan tentang keterwakilan perempuan dalam kelembagaan penyelenggara pemilu di semua tingkatan. Misalnya saja, kata Tri, pendaftaran Panitia Pemilihan Kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara sudah dimulai pada pertengahan dan akhir November 2022 ini. Namun, perempuan belum memiliki keterwakilan yang banyak.
“Pemilu selama ini belum menunjukkan keberhasilan proses rekruitmen perempuan dalam lembaga legislatif dan eksekutif. Keterwakilan perempuan belum mencapai 30%,” kata Sekretaris PP ‘Aisyiyah ini.
Dia menilai, ada beberapa faktor penyebab, seperti budaya patriarki yang masih mengutamakan laki-laki sebagai pemimpin khususnya di bidang politik, kaderisasi partai bagi perempuan belum optimal, daya dukung ekonomi dan lainnya.
Apalagi fenomena politik membutuhkan biaya tinggi masih mewarnai di negeri ini. Hal ini juga menjadi kendala tersendiri dan turut mengurangi ketertarikan perempuan di wilayah politik.
Padahal, kata Tri, keterwakilan dan kepemimpinan perempuan sangat penting di berbagai level dan ruang publik untuk memajukan kehidupan masyarakat dan bangsa. Perempuan dipandang memiliki tingkat kepedulian yang lebih tinggi pada persoalan yang dihadapi masyarakat. Apalagi terkait dengan isu-isu perempuan, anak, maupun kelompok marjinal.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini juga membahas isu Pemilu 2024. Menurutnya, sebagai sistem demokrasi untuk menjaring kepemimpinan di tingkat nasional maupun lokal, hendaknya pemilu dilakukan secara berkeadaban baik oleh semua pihak yang terlibat. Hal itu meliputi penyelenggara, elit pemerintahan, partai politik, para calon, juga para pemilih agar pemilu mendatang bisa mencerminkan kualitas demokrasi.
Lebih jauh, jelang Muktamar Muhammadiyah ini, Noordjannah menyebutkan ada 9 isu strategis yang menjadi bagian dari rekomendasi ‘Aisyiyah kepada pemerintah. Berikut ini 9 isu tersebut :
- Penguatan peran strategis umat Islam dalam mencerahkan bangsa
- Penguatan perdamaian dan persatuan bangsa
- Pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substantif
- Optimalisasi pemanfaatan digital untuk atasi kesenjangan dan dakwah berkemajuan.
- Menguatkan literasi nasional
- Ketahanan keluarga basis kemajuan peradaban bangsa dan kemanusiaan semesta
- Penguatan kedaulatan pangan untuk pemerataan akses ekonomi,
- Penguatan mitigasi bencana dan dampak perubahan iklim untuk perempuan dan anak
- Akses perlindungan bagi pekerja informal, dan penurunan angka stunting
“‘Aisyiyah akan mendorong agar isu-isu strategis ini menjadi isu prioritas yang harus segera ditindaklanjuti,” pungkasnya. (nap)






