Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah ramainya tren kuliner yang terus berubah, mulai dari makanan viral, inovasi rasa, sampai hidangan yang dipoles sedemikian rupa agar menarik di media sosial, ternyata ada satu hal yang tetap bertahan tanpa kehilangan tempatnya. Kuliner peninggalan Tiongkok masih hadir dan dinikmati hingga sekarang. Meski banyak pilihan baru bermunculan, hidangan-hidangan klasik ini tidak pernah benar-benar tergeser, karena punya cita rasa khas dan sejarah panjang yang membuatnya tetap relevan dari waktu ke waktu.
Keberadaannya yang tetap digemari menunjukkan bahwa kuliner bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga soal menjaga warisan yang sudah melekat dalam keseharian. Ada cerita, perjalanan, dan nilai budaya yang membuat hidangan-hidangan ini bertahan melewati berbagai perubahan zaman. Karena itu, menarik untuk melihat kembali beberapa kuliner peninggalan Tiongkok yang masih kita temui hingga sekarang, dan memahami apa yang membuatnya tetap hidup di tengah gelombang inovasi kuliner modern.
Tahok Solo
Tahok Solo adalah kuliner peninggalan Tionghoa yang terbuat dari sari kedelai lembut seperti tahu sutra. Kuliner berbahan kedelai ini dibawa masyarakat Tionghoa ke Solo dan sejak dulu menjadi comfort food hangat untuk banyak orang. Disajikan dengan kuah jahe manis, tahok menawarkan rasa ringan dan menenangkan, menjadikannya jajanan tradisional yang tetap digemari hingga sekarang.
Lontong Cap Go Meh
Hidangan ini merupakan hasil akulturasi Tionghoa dan Nusantara yang kini identik dengan perayaan Cap Go Meh. Isiannya lengkap mulai dari lontong, opor, hingga sambal goreng. Rasanya kaya dan hangat, cocok disajikan pada momen kumpul keluarga.
Bakcang
Bakcang adalah bungkusan beras ketan dengan isian daging atau kacang yang dikukus hingga beraroma wangi. Awalnya bagian dari perayaan tradisi Tionghoa, kini bakcang mudah ditemui sepanjang tahun. Rasanya gurih dan mengenyangkan, menjadikannya camilan sekaligus hidangan khas yang tak lekang waktu.
Kue Ku (Ang Ku Kueh)
Berasal dari tradisi kuliner Tionghoa yang dibawa para perantau sejak lama. Bentuk kura-kura dan warna merahnya mengikuti simbolisme Tiongkok yang identik dengan umur panjang dan keberuntungan. Hingga kini, kue ini tetap dipertahankan dalam berbagai perayaan sebagai salah satu warisan kuliner Tiongkok yang masih hidup di Indonesia.
Pada akhirnya, keberadaan berbagai kuliner peninggalan Tiongkok menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar urusan rasa, tetapi juga perjalanan budaya yang terus diwariskan. Melihat bagaimana kuliner tersebut bertahan hingga sekarang, kita dapat memahami bahwa warisan rasa selalu memiliki cara untuk tetap hidup dalam keseharian. [Erlina Damayanti]






