Ringkasan Berita:
- Praktik joki UTBK 2026 terungkap di Surabaya dan ditemukan di tiga kampus besar, menunjukkan indikasi kejahatan terorganisir.
- Modus kecurangan semakin canggih, mulai dari pemalsuan identitas hingga impersonation dengan pola berulang dari tahun sebelumnya.
- Tingginya tekanan masuk PTN favorit memicu lahirnya pasar gelap joki dengan tarif hingga ratusan juta rupiah.
- Praktik ini melibatkan jaringan terstruktur dengan potensi perputaran uang miliaran, meski kini diawasi ketat dan berisiko sanksi berat.
Surabaya (beritajatim.com) – Praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) kembali terbongkar di Surabaya pada 21 April 2026. Temuan di tiga kampus besar—Universitas Negeri Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, dan Universitas Airlangga—mengungkap pola yang tak lagi sederhana.
Kecurangan ini bukan sekadar aksi individu yang nekat menipu sistem. Indikasi yang muncul justru mengarah pada praktik terorganisir dengan pola berulang, jaringan tersembunyi, serta nilai ekonomi yang tidak kecil. Dari manipulasi identitas hingga skema penggantian peserta, praktik ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kini juga menjadi ladang bagi pasar ilegal yang berkembang diam-diam.
Modus Lama yang Terus Berevolusi di Era Digital
Dari hasil penelusuran, praktik joki UTBK 2026 di Surabaya menggunakan berbagai modus untuk mengelabui pengawas. Mulai dari pemalsuan dokumen identitas, manipulasi foto pada salinan ijazah, hingga impersonation atau penggantian peserta ujian secara langsung.
Menariknya, sejumlah temuan menunjukkan pola berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Foto yang digunakan penjoki dalam beberapa kasus memiliki kemiripan dengan data lama, hanya disertai perubahan nama. Hal ini terdeteksi berkat ketelitian pengawas yang menemukan kejanggalan saat proses verifikasi peserta sebelum ujian dimulai.
Jika ditarik ke belakang, praktik ini sudah ada sejak era SBMPTN sekitar 2020. Saat itu, metode yang digunakan relatif sederhana karena sistem verifikasi masih terbatas.
Namun, ketika sistem beralih ke ujian berbasis komputer pada periode 2021–2023, para pelaku mulai beradaptasi. Mereka memanfaatkan celah digital dengan mengedit foto, memalsukan dokumen, hingga menciptakan identitas baru.
Memasuki era SNPMB, pengawasan semakin diperketat melalui sinkronisasi data lintas tahun. Bahkan, panitia kini mampu mendeteksi peserta yang terindikasi sebagai penjoki sebelum ujian berlangsung.
Koordinator Pelaksana Pusat UTBK Surabaya, I Made Narsa, mengungkap bahwa sistem telah mengidentifikasi sejumlah nama mencurigakan sejak awal.
“Unair mendapatkan nama yang suspect. Namun orangnya tidak muncul saat ujian dilaksanakan di Unair Kampus C,” ujarnya.
Dalam satu kasus, foto yang terdeteksi sebagai data mencurigakan pada 2025 kembali muncul di 2026 dengan identitas berbeda—sebuah indikasi kuat bahwa praktik ini berjalan secara sistematis.
Tekanan Sosial dan Lahirnya Pasar Gelap Pendidikan
Di balik praktik joki, terdapat faktor yang lebih kompleks dari sekadar niat curang. Tekanan sosial untuk menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN), terutama jurusan bergengsi seperti kedokteran, menjadi pemicu utama.
Ekspektasi keluarga, persaingan ketat, hingga gengsi sosial menciptakan kondisi di mana sebagian peserta memilih jalan pintas. Dalam situasi tersebut, jasa joki hadir sebagai “solusi instan” yang sebenarnya berisiko tinggi.
Pasar joki berkembang dengan karakter unik. Ia tidak muncul secara terbuka, tidak beriklan, dan tidak mudah dilacak. Transaksi terjadi melalui jaringan tertutup berbasis kepercayaan, relasi personal, dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Model ini membuat praktik joki sulit diberantas sepenuhnya. Ia hidup di ruang abu-abu, tersembunyi di balik tekanan sosial dan ambisi akademik yang tinggi.
Tarif Fantastis: Semakin Bergengsi, Semakin Mahal
Dari berbagai laporan yang dihimpun, tarif jasa joki sangat bergantung pada target perguruan tinggi dan jurusan yang diincar.
Jurusan seperti kedokteran dan farmasi menempati posisi tertinggi, dengan tarif yang bisa menembus lebih dari Rp150 juta. Sementara jurusan lain berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp50 juta.
Harga tersebut juga dipengaruhi oleh reputasi penjoki. “Pemain lama” dengan pengalaman lebih tinggi cenderung memasang tarif lebih mahal dibandingkan penjoki baru.
Selain itu, skema layanan turut menentukan harga. Mulai dari sekadar konsultasi strategi hingga layanan penuh berupa impersonation, di mana penjoki menggantikan peserta secara langsung di ruang ujian.
Besarnya biaya ini menunjukkan bahwa praktik joki bukan lagi kecurangan kecil. Ia telah menjadi aktivitas ekonomi ilegal dengan nilai transaksi yang signifikan.
Struktur Jaringan dan Perputaran Uang Miliaran
Kasus yang terungkap di Surabaya memperlihatkan adanya struktur kerja yang terorganisir. Praktik joki tidak dilakukan secara individu, melainkan melibatkan jaringan dengan pembagian peran yang jelas.
Koordinator bertugas mencari klien dan mengatur transaksi. Eksekutor menjalankan peran sebagai penjoki di ruang ujian. Sementara tim pendukung menyiapkan dokumen palsu, logistik, serta kebutuhan teknis lainnya.
Struktur ini menyerupai model bisnis ilegal pada umumnya, di mana efisiensi dan spesialisasi meningkatkan peluang keberhasilan.
Jika satu jaringan mampu menangani 5 hingga 10 klien dalam satu periode ujian, dengan rata-rata tarif Rp50 juta, maka omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp500 juta. Dalam skala nasional, angka ini berpotensi menembus miliaran rupiah.
Namun, keuntungan besar ini sebanding dengan risiko yang dihadapi. Peserta dapat didiskualifikasi permanen dan kehilangan masa depan akademiknya. Sementara pelaku dapat dijerat pidana pemalsuan dokumen dan penipuan dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun penjara.
Kasus di Surabaya juga menegaskan bahwa sistem pengawasan kini semakin kuat. Dengan verifikasi lintas tahun dan deteksi berbasis pola, peluang penjoki untuk lolos semakin kecil.
Meski demikian, selama permintaan tetap ada, praktik ini akan terus mencari celah baru. Di antara sistem yang makin ketat dan pasar ilegal yang terus beradaptasi, pertarungan ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. [ang/beq]






