Ringkasan Berita:
- Prasasti kuno membuktikan Lamongan telah menjadi wilayah agraris kuat sejak masa Raja Airlangga.
- Perdagangan beras, peternakan, dan sistem pertanian maju tercatat dalam sejumlah prasasti kuno.
- Pada era Majapahit, Lamongan berkembang menjadi bagian penting jaringan perdagangan rempah dan hasil bumi.
- Status Lamongan sebagai lumbung pangan nasional saat ini disebut sebagai kelanjutan sejarah panjang peradaban agraris.
Lamongan (beritajatim.com) – Kabupaten Lamongan yang kini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional ternyata memiliki jejak sejarah agraris yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun sejak masa Kerajaan Airlangga hingga era Majapahit.
Rekam jejak panjang tersebut terungkap melalui berbagai prasasti kuno yang ditemukan di wilayah Lamongan, yang mencatat aktivitas pertanian, peternakan, hingga perdagangan komoditas strategis sejak masa kerajaan Nusantara kuno.
Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, mengungkapkan bahwa hampir seluruh prasasti era Airlangga yang ditemukan di Lamongan menunjukkan kuatnya karakter agraris wilayah tersebut.

“Di hampir semua prasasti masa Airlangga yang ditemukan di Lamongan, seperti Prasasti Cane, Patakan, Baru hingga Selorejo atau Bularuk, disebutkan soal perdagangan beras dan ternak. Itu menandakan kawasan ini sejak dahulu memang wilayah agraris yang sangat kuat,” kata Supriyo, Senin (11/5/2026).
Dalam prasasti-prasasti tersebut, ditemukan istilah adagāṅ bras atau perdagangan beras yang menjadi bukti bahwa Lamongan sejak masa itu telah memiliki surplus produksi pangan.
“Kalau sudah ada perdagangan beras berarti produksinya melimpah. Artinya sistem pertanian di wilayah ini sejak seribu tahun lalu sudah maju, termasuk pengelolaan irigasi dan struktur desa pertaniannya,” tuturnya.
Selain pertanian, sektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi masyarakat Lamongan kuno.
Istilah kbo untuk kerbau dan wdus yang berarti kambing menunjukkan bahwa masyarakat saat itu mengandalkan perpaduan antara pertanian dan peternakan sebagai fondasi ekonomi desa.
Menurut Supriyo, kerbau berfungsi penting dalam pengolahan sawah, sementara sapi dan kambing menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga masyarakat.
“Jadi pertanian masa itu bukan berdiri sendiri. Sawah, peternakan, perdagangan, semuanya saling terhubung membentuk ekonomi desa yang stabil,” ujarnya.

Jejak agraris Lamongan terus berkembang pada masa Majapahit, ketika wilayah ini mulai terintegrasi dalam jaringan perdagangan komoditas yang lebih luas.
Hal tersebut tercatat dalam Prasasti Biluluk II yang menyebut berbagai komoditas bernilai tinggi seperti sahaṅ (merica), kapulaga, cabe Jawa, kemukus, hingga kapas.
“Komoditas rempah-rempah tersebut pada masa itu memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi bagian penting perdagangan Nusantara,” katanya.
Keberadaan kapas dalam catatan prasasti juga mengindikasikan kemungkinan berkembangnya aktivitas kerajinan tekstil di masyarakat desa masa Majapahit.
“Prasasti Biluluk II menunjukkan ekonomi agraris Majapahit sudah sangat maju. Tidak hanya padi, tapi juga rempah-rempah dan hasil perkebunan ikut diperdagangkan. Itu menandakan wilayah Lamongan dan sekitarnya masuk dalam jalur ekonomi penting pada masa itu,” jelasnya.
Menurut Supriyo, predikat Lamongan sebagai salah satu lumbung pangan nasional saat ini bukan sekadar capaian modern, melainkan bagian dari kesinambungan sejarah panjang peradaban agraris Nusantara.
“Jadi apa yang kita lihat hari ini, sebenarnya kelanjutan dari tradisi agraris lama. Sawah-sawah di Lamongan bukan hanya lahan produksi pangan modern, tapi juga bagian dari warisan sejarah peradaban Nusantara,” pungkasnya. [fak/beq]

as a preferred source on Google




