Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI berkomitmen memperbaiki transparansi dan akuntabilitas sistem rekrutmen petugas haji guna menjawab kritik tajam publik terkait kualitas pelayanan di tanah suci. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan pembenahan metodologi seleksi menjadi prioritas utama untuk memastikan setiap personel yang terpilih memiliki integritas tinggi dan dedikasi penuh dalam melayani jemaah.
Langkah pembenahan ini disampaikan langsung oleh Dahnil usai memberikan pengarahan kepada 1.501 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Pusat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Kemenhaj mengakui bahwa proses rekrutmen, baik melalui jalur seleksi maupun penunjukan langsung, masih menyisakan banyak kelemahan yang perlu segera diperbaiki secara struktural.
“Pertama, tentu nilai-nilai dasar tentang petugas ya. Karena kan memang seperti saya sebutkan kemarin ke teman-teman media, bahwasanya kritik publik paling tinggi itu kan terkait dengan petugas. Terus terang, banyak kelemahan, banyak kekurangan, terutama pada proses rekrutmen. Nah, kami kan tidak punya waktu banyak untuk memperbaiki metodologi dan proses rekrutmen petugas, karena kan ada dua model rekrutmen yaitu model seleksi dan sebagian besar memang seleksi, kemudian ada model penunjukan langsung,” ujar Dahnil Anzar.
Kemenhaj menyoroti bahwa aspek transparansi akan menjadi fokus utama dalam perubahan metode rekrutmen ke depan. Hal ini dilakukan agar publik dapat memverifikasi bahwa petugas yang diberangkatkan benar-benar memiliki kompetensi yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar berdasarkan kedekatan atau faktor non-teknis lainnya.
“Nah, ke depan yang banyak kritik itu tentu terkait dengan seleksi metodenya. Mungkin ke depan kami akan banyak perubahan-perubahan rekrutmen, terutama terkait dengan transparansinya dan akuntabilitasnya. Dengan penunjukan langsung juga kami harus pastikan itu bisa dipertanggungjawabkan. Nah, kita fokus itu,” tegas Dahnil.
Selain masalah prosedur seleksi, Dahnil juga menyinggung isu “nebeng haji” yang sering kali mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi petugas haji. Ia menginstruksikan agar seluruh petugas fokus pada fungsi pelayanan dan membuang mentalitas sebagai jemaah saat bertugas. Untuk mengakomodasi kebutuhan ibadah petugas, pemerintah akan menerapkan konsep “Fikih Petugas Haji”.
“Kritik petugas itu kan salah satunya yang selalu diingatkan jangan sampai ada petugas yang nebeng naik haji. Itu yang paling banyak. Dan misalnya ini yang harus ditekankan sejak awal, bahwasanya mereka di sana fokusnya adalah pelayanan jemaah. Pelayanan jemaah itu artinya mereka bukan memposisikan diri sebagai jemaah haji. Jadi harus fokus melayani jemaah. Nanti kan ada fikih petugas hajilah, supaya mereka dapat juga bonus dari ibadah haji, ya ada cara-cara secara fikih yang memang bisa memenuhi,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi peningkatan performa, Kemenhaj secara signifikan menambah jumlah petugas dari unsur TNI dan Polri menjadi 185 personel, naik dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 80 personel. Langkah ini diambil karena tingkat kedisiplinan dan dedikasi prajurit dinilai sangat tinggi dalam membantu orkestrasi pergerakan jemaah yang masif di Arab Saudi.
Guna memastikan standar kedisiplinan tersebut merata ke seluruh petugas, Kemenhaj menggandeng Mabes TNI, Polri, hingga Kementerian Pertahanan untuk memimpin langsung jalannya pelatihan. Sistem command center dan pola komando yang jelas diharapkan dapat meminimalisir kesalahan koordinasi selama operasional haji berlangsung, terutama bagi jemaah asal daerah-daerah besar seperti Jawa Timur.
“Kami memberikan persiapan pelatihan ini di tangan teman-teman Polri, dari Mabes TNI, kemudian dari Kementerian Pertahanan turun langsung. Kenapa? Karena kita ingin mengadaptasi kedisiplinan, kekompakan tim, karena mereka di sana itu seperti tim besar yang mengorkestrasi dari mobilisasi dari jemaah itu. Oleh sebab itulah kita butuh command center yang jelas, kedisiplinan yang jelas, komando yang jelas, dan sebagainya,” pungkas Dahnil. [ian/aje]






