Jember (beritajatim.com) – Zainil Ghulam, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata pernah menjadi jurnalis semasa kuliah di Tripoli, Libya. Ia mengirimkan catatan perjalanannya ke sejumlah media nasional, salah satunya Majalah Gatra.
Kisah cinta Ghulam dengan jurnalisme sudah dimulai saat menjadi santri dan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pria kelahiran 21 Mei 1978 ini aktif di majalah dinding sekolah, dan mendapat bimbingan dari almarhum Ja’far Shodiq, adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid saat ini KH Zuhri Zaini.
Gus Ja’far, sapaan akrab Ja’far Shodiq, mengumpulkan dan melatih lima siswa, termasuk Ghulam, untuk mengikuti lomba majalah dinding untuk tingkat umum yang diselenggarakan pondok tersebut.
Ghulam tak menduga, majalah dinding yang digarapnya menyabet gelar runner-up di bawah SMA Nurul Jadid. “Saya bangga dan di situlah awal keinginan saya menjadi seorang jurnalis,” katanya, Rabu (9/2/2022).
Percintaan Ghulam dengan jurnalisme berlanjut saat duduk di bangku Madrasah Aliyah Nurul Jadid. Bersama kawan-kawannya, ia menerbitkan dua edisi buletin setiap bulan. Saat kuliah di Universitas Nurul Jadid, Ghulam semakin produktif.
“Pengasuh memang mendorong santri menjadi penulis, karena kiai saya, almarhum KH Wahid Zaini, adalah penulis yang hebat. Banyak buku yang diterbitkannya. Itu jadi pelecut saya pribadi untuk mengasah kemampuan jurnalistik,” kata Ghulam.
Dasar berotak encer, Ghulam mendapat beasiswa untuk kuliah di Kulliyah al-Da’wah al-Islamiyah atau University Of Islamic Call di Tripoli, Libya, pada 2003-2005. Di negeri yang dipimpin Muammar Khadafi itu, dia mengambil Jurusan al-Qur’an wa Ulumuhu. “Ketika baru mendarat di bandara Tripoli, saya kok ingin membuat catatan perjalanan selama di Libya,” kata Ghulam.
Sepekan kemudian, Ghulam menulis catatan perjalanan dari Indonesia ke Libya dan dikirimkan ke Majalah Aula, Harian Duta Masyarakat, dan media daring NU Online. Dua media massa tersebut berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. “Tulisan saya soal sekitar kampus dan kota Tripoli dimuat dua hari di Duta Masyarakat. Saya menulis tentang kultur dan kehidupan masyarakat di sana, dan bagaimana Libya yang notabene kaya minyak, diembargo, dan bisa bertahan,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”wartawan”]
Ghulam juga menuliskan interaksinya dengan mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa dari Jam’iyyah Da’wah Islamiyah (Yayasan Dakwah Islamiyah) yang berasal dari sejumlah negara. Yayasan yang berdiri pada 1974 ini memiliki cabang perguruan tinggi di sejumlah negara selain Libya, yakni Chad, Benin, Senegal (Afrika), Suriah, Lebanon (Asia), London (Eropa), dan lain-lain. Yayasan ini tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, namun juga memberikan donasi untuk kegiatan-kegiatan sosial, baik yang dilakukan oleh muslim maupun nonmuslim.
Ada 600 mahasiswa yang belajar di Kulliyah Da’wah Islamiyah Tripoli yang berasal dari Kosovo, Amerika, Brasil, Burqina Faso, Mali, Tajikistan, Thailand, India, Mesir, Aljazair, dan Indonesia. Ia mencatat ada 40 warga Indonesia yang belajar di strata 1 hingga strata 3.
“Saya tulis bagaimana kuliah di sana, dan bagaimana situs-situs yang konon peninggalan pengikut tarikat tasawuf bernama Syaikh Abdussalam Al-Asmari di kota Zliten,” kata Ghulam. Situs ini kelak setelah Khadafi lengser, hendak dihancurkan oleh Liwa Tsuwar Libya, kelompok pasukan yang mengklaim diri sebagai Salafy, sebuah ideologi puritan yang ingin memurnikan praktik ajaran Islam berdasar versi mereka sendiri, pada 2012.
Al Asmar adalah guru madzhab Maliki yang wafat pada 981 H. Dia mendirikan masjid dan pusat pendidikan Islam di Zilten dengan nama Jami’ah Al Asmariyah. Ghulam menceritakan bagaimana masyarakat di kota itu sangat santun. “Tidak seperti orang-orang Arab lainnya yang kasar,” katanya.
Akhir tahun, Ghulam ikut serta dalam perjalanan ilmiah keliling Libya yang diselenggarakan kampus. Perjalanannya memakan waktu sehari semalam dengan naik bus. Ia mengunjungi empat situs peninggalan Romawi dan sungai buatan. “Libya tidak punya sungai. Presiden Khadafi ingin ada sungai, maka dibangunlah sungai,” kata Ghulam.
Rombongan berkunjung ke makam Omar Al-Mukhtar Muhammad bin Farhat Bredan, pemimpin perjuangan rakyat Libya terhadap pendudukan Italia. Nama Mukhtar harum dan diabadikan dalam film berjudul Lion of The Desert yang dirilis pada 1981 dan dibintangi Anthony Quinn.
Perjalanan ini menjadi bahan tulisan reportase Ghulam untuk Majalah Gatra. Gatra adalah salah satu majalah arus utama di Indonesia yang diawaki oleh sebagian alumnus Majalah Tempo yang diberangus Soeharto. Tulisan itu ditayangkan di rubrik Perjalanan pada edisi 25 Juni 2005, dengan judul Masa Lalu Kota Embargo.
[berita-terkait number=”4″ tag=”nahdlatul-ulama”]
Teras artikel itu menunjukkan kemampuan naratif Ghulam. Ia membuka artikel itu dengan paragraf ini:
Udara musim panas berembus di Tripoli, Libya, awal Mei lalu. Meski butir peluh keluar deras dari pori-pori kulit, langkah kaki kami terus menapaki sudut-sudut Pantai Tripoli di wilayah Sabratha, sekitar 76 kilometer sebelah barat ibu kota Libya itu. Puing-puing bangunan kuno yang bertebaran di Sabratha menyiratkan kemegahan kota ini 20 abad silam.
Ghulam mendapat honor dengan mata uang dollar Amerika Serikat. “Seingat saya 300 dollar. Waktu itu mau transfer ke saya kesulitan, karena saya tidak punya rekening bank,” katanya.
“Untung ada Pak Meilando, orang Indonesia asal Jogja, yang bekerja di sebuah perusahaan di Libya. Saya mengatakan kepadanya, ‘Pak, saya tidak punya rekening. Mohon pinjam rekening. Nanti majalah Gatra mengirimkan honorarium saya. Uang itu kemudian ditransfer dan dicairkan dalam bentuk dinar, mata uang Libya. Saat itu satu dinar setara dengan Rp 7.500,” kata Ghulam.
Honor ini cukup besar bagi Ghulam. “Lumayan. Bagi saya ini, apresiasi yang baik, karena inilah awal mula saya mendapatkan gaji dari kegiatan jurnalistik. Kalau yang saya kirim ke Duta Masyarakat, Aula, NU Online, memang ada honornya, tapi sedikit sekali. Saya akhirnya bilang ke redakturnya agar diberikan ke teman-teman wartawan,” katanya.
Pulang ke Indonesia, Ghulam lebih disibukkan kegiatan mengasuh Pondok Pesantren Darul Muqomah, Gumukmas, Jember. Belakangan ia menjadi Ketua PCNU Kencong. Namun kecintaannya terhadap jurnalisme tak berkurang.
“Bagi saya menjadi jurnalis tak ada kata berhenti. Saya sebetulnya ingin jadi jurnalis, tapi kemudian tersesat di jalan yang benar menjadi dosen di Institut Agama Islam Syarifuddin, Lumajang. Menjadi jurnalis membuat saya bisa menjalin banyak teman dan tidak ada matinya. Menjadi jurnalis bisa diniatkan menjadi ladang dakwah untuk memotret fakta-fakta yang ada, menyebarkan kepada masyarakat tentang kebenaran-kebenaran yang sesuai fakta,” kata Ghulam.
“Jurnalis bisa mendobrak kezaliman. Karena tugas kita sebagai khalifah fil ardi, khalifah di bumi, adalah melawan kezaliman. Itu pesan Nabi Muhammad SAW,” kata Ghulam. [wir/suf]






